4 Fakta RS Internasional Bali Garapan BUMN: Operasi 2024-Tak Terima BPJS

4 Fakta RS Internasional Bali Garapan BUMN: Operasi 2024-Tak Terima BPJS

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Kamis, 13 Jul 2023 06:00 WIB
Menteri BUMN Erick Thohir (tengah) berbincang dengan Dirut PP Novel Arsyad (kiri) dan Dirut Pertamina Bina Medika IHC Mira Dyah Wahyuni (kanan) saat meninjau progres pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sanur, Bali, Kamis (6/7/2023). Pembangunan kawasan tersebut diharapkan selesai pada akhir 2023 dan beroperasi penuh pada awal tahun 2024. ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/Spt.
Menteri BUMN Erick Thohir (tengah) berbincang dengan Dirut PP Novel Arsyad (kiri) dan Dirut Pertamina Bina Medika IHC Mira Dyah Wahyuni (kanan)/Foto: ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto
Jakarta -

Holding rumah sakit pelat merah PT Pertamina Bina Medika (Indonesia Healthcare Corporation/IHC) sedang merampungkan pembangunan Rumah Sakit Internasional Bali (Bali International Hospital/BIH). Rumah sakit internasional itu ditargetkan bakal selesai pada awal 2024.

Direktur Utama IHC Mira Dyah Wahyuni memaparkan saat ini pembangunan BIH sudah mencapai 36,30%. Rencananya, pihaknya melakukan topping off rumah sakit pada akhir Juli ini.

"Saat ini sudah realisasi 36,30% rencana topping off 28 Juli 2023," papar Mira dalam rapat kerja dengan Komisi VI DPR di Gedung DPR RI, Jakarta Pusat, Rabu (12/7/2023).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berikut 4 Fakta Proyek BIH:


1. Operasi April 2024

Mira menjelaskan pihaknya akan siap membuka layanan di BIH mulai April 2024. Namun, khusus untuk layanan radioterapi yang digunakan pasien kanker baru bisa digunakan Agustus 2024.

"Insyaallah kami akan siap membuka dan selesai di April 2024 untuk layanan rumah sakitnya, tapi untuk kanker atau radiotherapy baru selesai Agustus 2024," jelas Mira.

ADVERTISEMENT

Rumah sakit ini akan berdiri di lahan seluas 50 ribu meter persegi dengan bangunan 4 lantai dan 260 bangsal pasien di dalamnya. Ada 5 layanan utama dalam rumah sakit ini yaitu Cardiology, Oncology, Neurology, Gastroentero-Hepatologi, Orthopedic. Rumah sakit ini juga dikerjasamakan operasionalnya dengan Mayo Clinic asal Amerika Serikat.

2. Kebutuhan Dokter

Mira juga menjabarkan pihaknya butuh 328 sumber daya manusia (SDM) untuk operasional RS internasional di Bali. Terdiri dari dokter spesialis sebanyak 56 orang, dokter umum sebanyak 15 orang, perawat sebanyak 104 orang, penunjang medis sebanyak 75 orang, dan pegawai non medis sebanyak 78 orang.

Sejauh ini pemenuhan kebutuhan sumber daya manusianya sudah mencapai 39%. Pemenuhan paling tinggi adalah untuk posisi dokter umum yang sudah mencapai 80% dari kebutuhan.

"Target kami untuk pemenuhan SDM ini bulan Oktober 2023 komplit," jelas Mira.

Dari total 71 dokter yang dibutuhkan baik untuk spesialis maupun umum, pihak Mira menarik setidaknya 8 dokter asing dan juga 9 dokter lulusan luar negeri alias diaspora.

"Kami akan selektif lakukan credential untuk spesialisasi yang belum ada dan diisi oleh orang asing," beber Mira.

RS tidak terima BPJS Kesehatan. Cek halaman berikutnya.

3. Tak Terima BPJS Kesehatan

Rumah sakit BIH dipastikan tidak akan menerima pasien BPJS Kesehatan. Menurut Mira rumah sakit BIH memang dibangun untuk mengincar pasar pasien kalangan menengah ke atas.

Mira mengatakan Kementerian BUMN mengamanatkan BIH bisa menjadi penahan masyarakat yang biasa berobat ke luar negeri untuk melakukan pengobatan di dalam negeri. Setidaknya, saat ini diperkirakan ada 2 juta orang Indonesia yang berobat di luar negeri.

"Karena kan di awal amanahnya menahan orang sebanyak 2 juta yang menengah atas ini pergi keluar. Maka ini kita mesti konsisten dengan target tadi, maka kita tak terima BPJS," jelas Mira.

Dia melanjutkan di Bali pun sudah banyak rumah sakit lainnya yang segmen pasiennya untuk menengah ke bawah. Pihaknya mengatakan BIH tidak akan ikut bersaing di pasar tersebut.

"Di Bali pun sudah banyak rumah sakit, segmennya berbeda jadi kita nggak ikut bersaing juga dengan mereka," ujar Mira.

Lebih lanjut, pihaknya berencana menjadikan BIH bukan hanya sebagai institusi kesehatan, namun bisa memfasilitasi wisata kesehatan. "Kita justru akan meningkatkan BIH sebagai wisata kesehatan, bukan cuma medis tapi juga wellness, elderly living, dan hal lain, kaitannya nggak cuma pengobatan," kata Mira.

4. IHC Mau IPO

IHC juga berencana untuk melakukan penawaran saham perdana (IPO). Rencana IPO menjadi strategi jangka panjang IHC untuk memenuhi kebutuhan modal. Mira mengatakan rencananya IPO dilakukan pada 2027 atau 2028. Saat ini pihaknya masih fokus membenahi internal keuangan perusahaan.

"Kita masih harus banyak melakukan transformasi mulai dari digitalisasi standardisasi segala macam. Mungkin untuk IPO di 2027-2028. Utamanya kita harus benahi laporan keuangan berbeda-beda, kontrolnya, tarifnya, sistemnya, bisnis prosesnya ini yang harus dilalui," ungkap Mira.

Pihaknya juga mulai mencari investor strategis untuk pemenuhan modal dalam jangka pendek. Sudah ada sekitar 3 investor strategis yang sedang didekati IHC.

"Ini kan panjang kita masih bicara lah dengan mereka, ada beberapa sekitar 3 investor masih kita kaji lah ada asing dalam negeri juga," kata Mira.

Namun, Mira belum mau terbuka pihak mana saja yang mulai didekati IHC. "Belum bisa disebut ya karena memang belum 'menikah' masih naksir-naksiran," katanya.

Mira mengatakan setidaknya dalam waktu dekat pihaknya butuh sekitar Rp 3-4 triliun untuk melakukan transformasi sekaligus persiapan IPO. "Targetnya ya kita hitung-hitung agar bisa biayai kesiapan IPO, transformasi, digitalisasi mungkin sekitar Rp 3-4 triliun gitu ya mungkin," sebut Mira.


Hide Ads