Perjalanan Sistem Bayar Tol di RI: Uang Tunai, Kartu, & Rencana MLFF

Perjalanan Sistem Bayar Tol di RI: Uang Tunai, Kartu, & Rencana MLFF

Ilyas Fadilah - detikFinance
Selasa, 24 Mar 2026 16:15 WIB
Perjalanan Sistem Bayar Tol di RI: Uang Tunai, Kartu, & Rencana MLFF
Ilustrasi/Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Sistem pembayaran tol di Indonesia terus mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Diawali dengan penggunaan uang tunai, sistem pembayaran tol kini beralih ke sistem elektronik atau e-toll yang menjadi standar di seluruh ruas.

Ke depan, sistem bayar tol tanpa setop dengan sistem Multi Lane Free Flow (MLFF) juga diterapkan. Perubahan-perubahan tersebut dilakukan untuk mempercepat transaksi, mengurangi antrean kendaraan, serta meningkatkan efisiensi layanan di tol.

Lantas, bagaimana perjalanan sistem bayar tol di Indonesia mulai dari pembayaran tunai hingga rencana penerapan MLFF?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam catatan detikcom yang mengutip laman Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT), tol di Indonesia pertama kali dibangun pada 1978, yaitu Tol Jagorawi yang menghubungkan Jakarta, Bogor, dan Ciawi.

"Sejarah jalan tol di Indonesia dimulai pada tahun 1978 dengan dioperasikannya jalan tol Jagorawi dengan panjang 59 km (termasuk jalan akses), yang menghubungkan Jakarta, Bogor, dan Ciawi," seperti tertulis di website BPJT, dilansir Selasa (24/3/2026).

ADVERTISEMENT

Transisi Tunai ke Kartu

Sebelum kartu tol atau uang elektronik digunakan, transaksi di tol menggunakan uang tunai, pembayaran dilakukan ke petugas yang berjaga di gerbang tol. Pengendara mengambil tiket saat masuk dan membayar uang secara tunai ke petugas.

Dalam perkembangannya, pelaksanaan transaksi tunai lalu berganti menjadi pembayaran otomatis menggunakan kartu tol. Kartu tol resmi digunakan serempak di seluruh gerbang tol Indonesia pada Oktober 2017. Gerbang tol tidak lagi menerima pembayaran secara tunai.

Dipilihnya uang elektronik sebagai alat transaksi adalah karena alasan efisiensi. Dengan menggunakan kartu, pemerintah mengklaim transaksi di gerbang tol jadi lebih singkat dari sebelumnya 7-8 detik, menjadi 2-3 detik.

Perjalanan Sistem Bayar Tol di RI: Uang Tunai, Kartu, & Rencana MLFF Foto: Grandyos Zafna

Transisi dari pembayaran tunai ke uang elektronik menjadi sesuatu yang baru bagi mayoritas masyarakat sejak tol pertama kali dibangun di Indonesia. Akibat kebijakan ini, PT Jasa Marga (Persero) Tbk pernah mengungkapkan bahwa penerapan elektrifikasi pada gerbang tol berdampak kepada 1.351 penjaga gerbang tol.

Para pegawai yang terdampak otomatisasi diberikan pilihan. Pertama, pindah menjadi staf di kantor pusat. Kedua, pindah menjadi staf di kantor cabang. Ketiga, menjadi pegawai di anak usaha. Keempat, menjadi wiraswasta di rest area jalantol milik perseroan. Kelima, pensiun dini.

Dari segi pengguna tol, mereka diharapkan bisa melakukan beberapa kebiasaan baru, misalnya sebelum melakukan perjalanan, pastikan cek kecukupan saldo uang elektronik yang dimiliki. Pengguna dapat melakukan top up melalui ATM, Layanan Mobile Top Up, hingga jaringan toko ritel.

Bayar Tol Tanpa Setop

Penggunaan uang elektronik sebagai alat pembayaran di jalan tol terus dipakai hingga sekarang. Pemerintah sedang menyiapkan sistem pembayaran baru untuk menggantikan uang elektronik yakni MLFF.

MLFF merupakan sistem pembayaran tol tanpa berhenti yang memungkinkan kendaraan melintas tanpa tapping kartu atau berhenti di gerbang. Dengan sistem ini, kendaraan bisa terus melaju tanpa hambatan sehingga tidak terjadi antrean di gerbang tol.

Proyek MLFF pertama kali dibahas pada 2021 dan rencana implementasinya telah mundur beberapa kali. Sejak diuji coba pada akhir Desember 2023 di Tol Bali Mandara, belum ada kabar lanjutan dari rencana implementasi proyek tersebut.

Bayar tol tanpa setopBayar tol tanpa setop Foto: Infografis/Fuad Hasim

MLFF masuk daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) terbaru yang ditetapkan Presiden Prabowo Subianto. Hal ini tercantum dalam Peraturan Menteri Koordinator (Permenko) Bidang Perekonomian Nomor 16 Tahun 2025 tentang Perubahan Daftar PSN.

Proyek tersebut dimenangkan oleh perusahaan asalh Hungaria, Roatex Ltd Zrt, dan dikerjakan anak perusahaan, PT Roatex Indonesia Toll System (RITS). Dana pengembagan MLFF berasal dari anggaran negara Hungaria melalui RITS yang mencapai US$ 300 juta atau Rp 4,4 triliun.

Dalam prosesnya, implementasi MLFF telah molor lebih dari tiga tahun yang mulanya operasi ditargetkan dimulai pada 2022. Berbagai tantangan muncul, mulai dari masalah internal di RITS, hingga uji coba tertutup yang belum berhasil. Akibatnya, target implementasi sistem anyar ini terus mundur.

(ily/ara)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads