Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) melakukan kunjungan ke Rusia. Beberapa rangkaian acara dihadiri AHY di Rusia.
Dalam rangkaian kunjungan itu, AHY menyampaikan bahwa pemerintah Indonesia membuka peluang kolaborasi internasional yang lebih luas dalam pengembangan infrastruktur ketahanan iklim termasuk teknologi perlindungan pesisir, sistem peringatan dini bencana, energi berkelanjutan, serta proyek Giant Sea Wall yang menjadi salah satu agenda strategis nasional di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Peluang kolaborasi tersebut disampaikan AHY saat berbicara dalam sesi EAEU-ASEAN pada rangkaian St Petersburg International Economic Forum (SPIEF) 2026 di St Petersburg, Rusia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut AHY, perubahan iklim telah menjadi tantangan nyata yang dihadapi Indonesia. Banjir, abrasi pantai, cuaca ekstrem, kenaikan muka air laut, hingga penurunan muka tanah di sejumlah wilayah pesisir memerlukan langkah mitigasi yang terukur, terpadu, dan berjangka panjang.
"Indonesia sedang mematangkan rencana pembangunan Giant Sea Wall sebagai bagian dari agenda perlindungan pesisir yang lebih luas, khususnya di wilayah Pantai Utara Jawa. Langkah ini bukan sekadar menghadirkan perlindungan fisik, tetapi juga menjaga denyut nadi kehidupan masyarakat, melindungi mata pencaharian, serta memastikan keberlanjutan ekosistem sosial dan ekonomi di kawasan pesisir," ujar AHY dalam keterangannya, Minggu (7/6/2026).
Mengenai kawasan Pantai Utara Jawa, AHY mengatakan kawasan tersebut merupakan salah satu pusat aktivitas ekonomi nasional yang memiliki peran penting dalam mendukung industri, perdagangan, logistik, pelabuhan, dan mobilitas masyarakat. Oleh karena itu, perlindungan kawasan pesisir menjadi bagian penting dari strategi menjaga keberlanjutan pembangunan nasional dalam jangka panjang.
Menurut Menko AHY, proyek Giant Sea Wall membuka peluang kolaborasi internasional yang luas, mulai dari rekayasa pesisir, teknologi perlindungan pantai dan penghalang laut, sistem operasi dan pemeliharaan, teknologi pemantauan lingkungan, hingga penelitian dan pengembangan bersama.
Di forum yang sama, AHY memaparkan tiga prioritas utama pembangunan infrastruktur Indonesia. Pertama, dekarbonisasi sektor transportasi sebagai bagian dari upaya mencapai target Net Zero Emissions.
Kedua, penguatan konektivitas strategis melalui integrasi pelabuhan, sistem logistik, dan jaringan perkeretaapian nasional. Ketiga, pembangunan infrastruktur yang tangguh terhadap perubahan iklim, termasuk perlindungan kawasan pesisir melalui proyek Giant Sea Wall.
Tawaran Garap Pelabuhan
AHY juga menawarkan peluang kerja sama pada sektor logistik, khususnya pada sektor infrastruktur kemaritiman. Menurutnya, penguatan konektivitas merupakan salah satu prioritas pembangunan nasional di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan lebih dari 17.000 pulau, Indonesia membutuhkan sistem transportasi dan logistik yang semakin efisien, terintegrasi, dan mampu menjangkau seluruh wilayah Indonesia.
Pemerintah Indonesia saat ini terus memperkuat berbagai pelabuhan strategis, mengintegrasikan sistem logistik nasional, serta mengembangkan jaringan perkeretaapian di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan kawasan-kawasan pertumbuhan baru lainnya.
"Konektivitas adalah hal yang menyatukan Indonesia, memperluas peluang, dan memperkuat daya saing kita," ujar AHY.
AHY menilai Rusia memiliki pengalaman dan kapasitas teknologi yang kuat dalam bidang transportasi, logistik, manufaktur, rekayasa infrastruktur, dan industri maritim. Oleh karena itu, kerja sama Indonesia-Rusia memiliki potensi besar untuk berkembang lebih jauh, tidak hanya dalam bentuk perdagangan, tetapi juga investasi, transfer teknologi, pengembangan industri strategis, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
Selain sektor transportasi dan logistik, Indonesia juga membuka ruang kolaborasi yang lebih luas di bidang kemaritiman. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia terus mendorong modernisasi pelabuhan, penguatan konektivitas antarpulau, pengembangan industri galangan kapal, serta peningkatan efisiensi rantai pasok nasional.
(acd/acd)










































