Pabrik Pesawat PTDI Mau Dipindah ke Kertajati

Pabrik Pesawat PTDI Mau Dipindah ke Kertajati

Ilyas Fadilah - detikFinance
Rabu, 15 Jul 2026 17:36 WIB
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY)
Foto: Ilyas Fadilah
Jakarta -

Pemerintah mulai menyiapkan Bandara Kertajati di Majalengka, Jawa Barat, sebagai kawasan industri kedirgantaraan nasional. Hari ini telah dilakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dan PT Bandar Udara Internasional Jawa Barat (BIJB).

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengatakan, kerja sama tersebut menjadi bagian dari upaya mengembangkan Kertajati sebagai bandara sekaligus Aerospace Industrial Zone atau kawasan industri kedirgantaraan.

"Tadi kami menyaksikan sebuah penandatanganan MOU antara PTDI dan PT BIJB sebagai bagian dari komitmen bersama untuk bisa mengembangkan Kertajati, area Kertajati, menjadi kawasan yang menjadi salah satu hub industri kedirgantaraan," kata AHY dalam konferensi pers di kantornya di Jakarta Pusat, Rabu (15/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

AHY menjelaskan Kertajati dinilai menjadi lokasi yang ideal untuk pengembangan bisnis PTDI. Selain Bandung yang semakin padat, kawasan Kertajati memiliki lahan lebih luas dan terhubung dengan kawasan industri di Bekasi, Karawang, Purwakarta, Pelabuhan Patimban, hingga Cirebon dan Jawa Tengah.

ADVERTISEMENT

AHY menjelaskan fasilitas PTDI di Bandung direncanakan akan menjadi pusat riset dan inovasi bagi perusahaan. Untuk kegiatan operasional PTDI sendiri dipindah ke area Kertajati.

Sementara itu, Direktur Utama PTDI, Gita Amperiawan menjelaskan perusahaan sebenarnya telah memanfaatkan Bandara Kertajati untuk uji terbang pesawat tanpa awak atau UAV MALE dan pesawat N219. Ia menilai, Bandara Husein Sastranegara di Bandung sudah tidak memadai lagi.

Selain dinilai sebagai kawasan padat penduduk, runway Husein yang sepanjang sekitar 2.400 meter kurang ideal untuk uji terbang perdana pesawat baru yang membutuhkan landasan lebih panjang demi alasan keselamatan.

"Karena untuk yang pertama kali pesawat itu terbang, untuk pertama kali pesawat itu didesain, memerlukan runway disarankan adalah 3 kilometer. Untuk apa? Kalau take off, itu harus aman. Dan Bandung yang kurang lebih 2,400 meter sudah tidak bisa lagi digunakan bagi industri manufaktur aircraft," sebut Gita.

Ia menambahkan, PTDI merupakan pemasok komponen pesawat bagi pemain global seperti Airbus hingga Boeing. PTDI harus mengirim barang ke Jakarta terlebih dahulu sebelum dikirim ke Airbus hingga Boeing. Lewat kerja sama ini, pengiriman diharapkan bisa langsung dilakukan lewat Bandara Kertajati.

"Setelah kami produksi, kami harus bawa ke Jakarta untuk diterbangkan. Itu besar-besar kontainer yang panjang-panjang. Besok di Kertajati, kami tidak perlu itu lagi. Karena dari Kertajati bisa kita antarkan langsung ke end-user kami di luar," jelas Gita.

Gita mengatakan PTDI menargetkan mulai memanfaatkan Kertajati pada Agustus 2026. Langkah tersebut dilakukan untuk mempercepat proses uji terbang pesawat sehingga target peningkatan kesiapan armada atau fleet readiness pesawat untuk TNI pada Oktober 2026 dapat tercapai.

"Pertama kali akan kita manfaatkan adalah untuk semua fleet readiness hasil pekerjaan kami, kami akan pindahkan ke Kertajati. Yang kedua tentunya adalah MALE akan kami terbangkan di sana, kemudian N219 untuk angkatan darat yang akan dideliver di akhir tahun ini, kami akan terbangkan di sana. Supaya apa? Supaya kami delivery on time," beber Gita.

Tahap berikutnya, PTDI akan membangun fasilitas Maintenance, Repair and Overhaul (MRO) di kawasan Kertajati. Perusahaan menyiapkan area sekitar 150-200 hektare yang akan dikembangkan untuk empat portofolio bisnis, yakni manufaktur pesawat, MRO, aerostructure, dan engineering services seperti pembuatan drone.

Dalam jangka panjang, PTDI juga berencana memindahkan lini produksi ke Kertajati. Menurut Gita, lini produksi pertama yang akan dipindahkan adalah N219 untuk memenuhi kebutuhan TNI maupun penerbangan komersial.

"Fase ketiga kita memindahkan produksi ini ke Kertajati. Dan tentunya yang paling mungkin yang pertama akan dipindahkan adalah N219. Pertama peralatannya baru, dan kemudian insyaallah dengan dukungan Pak Menko dan Pak Menteri Perhubungan, demand kita akan luar biasa. Baik untuk TNI Pak, karena apalagi untuk penerbangan komersial," tutup Gita.

(acd/acd)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads