Menhub Buka Suara soal Rencana KAI Impor KRL Bekas dari Jepang

Menhub Buka Suara soal Rencana KAI Impor KRL Bekas dari Jepang

Heri Purnomo - detikFinance
Kamis, 24 Sep 2026 18:08 WIB
Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi
Foto: Dok. Kemenhub
Jakarta -

Menteri Perhubungan (Memhub) Dudy Purwagandhi buka suara terkait rencana PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI untuk mengimpor KRL bekas dari Jepang. Dudy menyampaikan bahwa hingga saat ini Kementerian Perhubungan (Kemenhub) belum menerima pengajuan soal rencana KAI mengimpor KRL bekas dari Jepang.

"KAI belum masukin ke saya," ujar Dudy saat ditanya apakah Kemenhub menyetujui soal rencana impor KRL bekas oleh KAI, Kamis (24/9/2026).

Adapun saat ditanya soal mengenai arahan Presiden Prabowo Subianto agar pengadaan pemerintah semaksimal mungkin menggunakan produk dalam negeri, Dudy menegaskan Kemenhub akan mengikuti arahan tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ya tentunya apa yang menjadi harapan presiden harus kita laksanakan," ujarnya.

Sebelumnya,Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin mengusulkan untuk kembali melakukan impor kereta rel listrik (KRL) bekas pakai dari Jepang. Pengadaan rangkaian bukan baru disiapkan sebagai solusi transisi di tengah meningkatnya kebutuhan armada KRL Jabodetabek. Pada saat bersamaan, KAI tetap didorong memperkuat industri perkeretaapian dalam negeri.

ADVERTISEMENT

Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin mengungkapkan pihaknya membutuhkan tambahan 23 trainset bukan baru untuk melayani penumpang. Rinciannya tujuh trainset dengan formasi 12 kereta atau SF12 dan 16 trainset dengan formasi delapan kereta atau SF8.

"Jumlah yang kami usulkan untuk bridging ini, yang kereta yang tidak baru ini, itu ada 7 trainset dengan SF12. Kemudian plus dengan 16 train set dengan SF8," ujar Bobby.

Perbedaan formasi disesuaikan dengan kondisi infrastruktur di masing-masing lintas. Bobby menjelaskan ada sejumlah stasiun yang peronnya belum dapat mengakomodasi rangkaian SF12.

"Misalnya loop line-nya yang dari Tanjung Priok ke Kota itu peronnya pendek-pendek. Jadi kalau kita pasang SF12 nggak optimum dia. Jadi makanya kami mengusulkan itu adalah 7 SF12 kemudian 16 SF8," jelas Bobby.

Kebutuhan tambahan armada muncul seiring lonjakan pengguna KRL Jabodetabek. Menurut Bobby, jumlah penumpang pada semester I-2026 tumbuh 11,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Rata-rata pengguna KRL kini mencapai sekitar 1,1 juta penumpang per hari dan bisa mencapai 1,3 juta penumpang. KAI juga tengah menghadapi kebutuhan penggantian sejumlah trainset lama yang telah berusia lebih dari 40 tahun.

Dalam rapat tersebut, Komisi VI DPR RI pun memberi lampu hijau kepada PT Kereta Api Indonesia (Persero) mengimpor rangkaian KRL bukan baru atau bekas. Hal ini demi memenuhi kebutuhan kapasitas angkutan KRL Jabodetabek yang terus meningkat.

Persetujuan itu tertuang dalam kesimpulan Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VI DPR RI bersama KAI. Kesimpulan rapat dibacakan Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Andre Rosiade.

"Memenuhi kebutuhan kapasitas angkutan perkeretaapian, khususnya KRL Jabodetabek, dengan meningkatkan industri lokal, dan melakukan impor rangkaian kereta (trainset) bukan baru yang terintegrasi dan berkelanjutan," kata Andre dalam RDP dengan KAI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (23/9/2026).

(hrp/fdl)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads