RI Mau Impor Kereta Bekas Jepang, Segini Kebutuhannya

RI Mau Impor Kereta Bekas Jepang, Segini Kebutuhannya

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Minggu, 27 Sep 2026 15:30 WIB
Suasana Stasiun Manggarai (Shonya/detikcom)
Foto: Suasana Stasiun Manggarai (Shonya/detikcom)
Jakarta -

PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI mengusulkan impor kereta rel listrik (KRL) bukan baru atau bekas dari Jepang. Usulan ini diungkapkan langsung oleh Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin kepada Komisi VI DPR dan disetujui.

Rinciannya, Bobby menyatakan pihaknya membutuhkan tambahan 23 trainset untuk operasional KRL Jabodetabek. Puluhan rangkaian ini rencananya akan dipenuhi dengan pengadaan KRL bukan baru.

Kebutuhan itu dibagi menjadi dua, pertama ada 7 trainset dengan formasi 12 kereta atau SF12 dan 16 trainset dengan formasi delapan kereta atau SF8.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jumlah yang kami usulkan untuk bridging ini, yang kereta yang tidak baru ini, itu ada 7 trainset dengan SF12. Kemudian plus dengan 16 train set dengan SF8," ujar Bobby dalam RDP dengan Komisi VI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (23/9/2026).

ADVERTISEMENT

Perbedaan formasi itu disesuaikan dengan kondisi infrastruktur di masing-masing lintas. Bobby menjelaskan ada sejumlah stasiun yang peronnya belum dapat mengakomodasi rangkaian SF12.

"Misalnya loop line-nya yang dari Tanjung Priok ke Kota itu peronnya pendek-pendek. Jadi kalau kita pasang SF12 nggak optimum dia. Jadi makanya kami mengusulkan itu adalah 7 SF12 kemudian 16 SF8," jelas Bobby.

Kebutuhan tambahan armada muncul seiring lonjakan pengguna KRL Jabodetabek. Menurut Bobby, jumlah penumpang pada semester I-2026 tumbuh 11,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Rata-rata pengguna KRL kini mencapai sekitar 1,1 juta penumpang per hari dan bisa mencapai 1,3 juta penumpang. KAI juga tengah menghadapi kebutuhan penggantian sejumlah trainset lama yang telah berusia lebih dari 40 tahun.

Sejak 2024, KAI sendiri sudah meneken kontrak pengadaan 27 rangkaian kereta baru, dengan total gerbong mencapai 324 unit.

Kereta tersebut dibagi dua pengadaannya. Sekitar 11 rangkaian diimpor dari China dan diproduksi oleh CRRC, sementara itu 16 rangkaian sisanya diproduksi di dalam negeri oleh PT INKA.

Sampai saat ini, sudah 18 dari 27 rangkaian baru atau 216 kereta telah beroperasi. Terdiri atas 11 rangkaian produksi CRRC dan 7 rangkaian produksi INKA.

(acd/acd)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads