Indeks sektoral saham bergerak mixed dengan mayoritas mencatatkan penurunan dipimpin sektor industri dasar mencapai 0,34% ke level 403 disusul indeks sektor konsumer turun 0,32% ke level 1.139,2; dan pertambangan turun 0,27% ke level 3.141,53. Sementara itu, indeks manufaktur turun 0,24% ke level 847,79; indeks aneka industri turun 0,04% ke level 972,29 dan indeks infrastruktur turun 0,01% ke level 831,62. Di sisi lain, indeks keuangan naik 1,47% ke level 502,62; indeks perdagangan naik 1,34% ke level 458,32; indeks properti naik 0,61% ke level 206,11; dan indeks perkebunan naik 0,50% ke level 2.327,69. Indeks MBX menguat namun, DBX ditutup turun.
IHSG mengalami net foreign sell sebesar Rp 328,82 miliar dengan total pembelian asing Rp 1,82 triliun dan total penjualan asing mencapai Rp 2,15 triliun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
IHSG masih kembali menembus rekor terbarunya. Berbagai sentimen, terutama global turut mendukung pergerakan IHSG. Hal ini juga ditunjang oleh peningkatan jumlah saham yang mencatatkan kenaikan dan tingginya volume yang ditransaksikan. Akan tetapi, kondisi sebaliknya terlihat dari value transaksi saham yang mengalami penurunan dan transaksi asing yang mencatatkan nett sale Rp 328,82 miliar.
Naiknya harga-harga saham selama beberapa hari membuat IHSG ikut terangkat dan mulai mendekati area overbought. Untuk itulah investor merealisasikan keuntungan terhadap saham-saham yang sudah dinilai overbought . Oleh karena itu, kenaikan IHSG mulai tertahan. Adapun sentimen positif itu ialah, perpanjangan pemangkasan pajak AS yang sebelumnya sempat menimbulkan kekhawatiran inflasi namun, pada akhirnya dinilai positif karena akan memicu pertumbuhan laba bersih emiten.
Lalu, kesepakatan China dan KorUt untuk meredam gejolak di semenanjung Korea. Usaha China dinilai bisa menenangkan KorUt untuk tidak melakukan penyerbuan lebih lanjut. Kemudian, naiknya harga komoditas di pasar internasional dan dibarengi dengan listing nya saham BRMS, juga menjadi faktor penguatan IHSG.
Bursa Asia mayoritas menguat setelah dirilisnya data kenaikan ekonomi Jepang pada Q3-10 sebesar 1,1% yang lebih tinggi dari perkiraan Pemerintah dan direvisinya target PDB menjadi 4,5% dari target awal 3,9%. Selain itu, data penurunan pengangguran di Australia menjadi 5,2% lebih rendah dari Oktober di level 5,4%. Pada November diperkirakan 54.600 tenaga kerja terserap oleh perusahaan. Tenaga kerja Austalia naik pada Oktober sebesar 360.000 di atas bulan-bulan sebelumnya sehingga total penyerapan tenaga kerja mencapai 11 juta orang.
Tetapi, bursa China melemah karena kekhawatiran peningkatan inflasi. China diperkirakan mengalami inflasi mencapai 4,4% atau lebih tinggi dari bulan Oktober dan indeks harga konsumen China secara tahunan diperkirakan mencapai 3,2% atau sedikit melebihi target Pemerintah di kisaran 3%. Pada bursa AS semalam, bergerak mixed dengan mayoritas menguat karena didukung ekspektasi kenaikan sektor perumahan dan Unemployment claim yang diperkirakan turun jadi 425 ribu orang dari pekan lalu di level 436 ribu orang. Meski mayoritas menguat, indeks DJIA mengalami pelemahan.
Pada perdagangan Jumat (10/12) diperkirakan IHSG akan berada pada support 3.755-3.771 dan resistance 3.795-3.800. IHSG membentuk candle hanging man setelah terbentuknya candle menyerupai marubozu positif. Hal ini mengindikasikan kekuatan daya beli mulai berkurang. Hal yang sama terjadi di awal November dimana setelah penguatan signifikan beberapa hari akan diikuti dengan koreksi teknikal. Itulah yang dimungkinkan terjadi hari ini. Apalagi perdagangan di akhir pekan yang biasanya selalu ada koreksi. MACD masih bergerak naik setelah golden cross . RSI, William's %R, dan Stochastic masih bergerak setelah menembus area overbought namun, mulai tertahan. Investor harus mewaspadai potensi koreksi.
(qom/qom)











































