Indeks sektoral saham mayoritas ditutup naik dengan kenaikan dipimpin oleh indeks aneka industri yang menguat 4,80% di level 879,03; indeks perkebunan naik 4,18% ke level 2.100,74; indeks manufaktur naik 3,22% ke level 740,96; indeks perdagangan naik 3,22% ke level 475,73; indeks keuangan naik 3,04% ke level 420,37; indeks industri dasar naik 2,77% ke level 344,35; indeks konsumer naik 2,37% ke level 986,77; indeks pertambangan naik 2,35% ke level 3.175,33; indeks properti
naik 2,10% ke level 180,33; dan indeks infrastruktur naik 0,71% ke level 777,41.
Indeks MBX dan DBX menguat. IHSG mengalami net foreign buy sebesar Rp 331,83 triliun dengan total pembelian asing Rp 2,38 triliun dan total penjualan asing mencapai Rp 2,05 triliun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
IHSG akhirnya bisa kembali masuk ke zona hijau setelah beberapa hari sebelumnya terus berada di zona merah. Investor kembali aktif mulai mengakumulasi saham-saham pilihan yang sudah terdiskon harganya. Volume dan nilai transaksi pun tercatat naik dibandingkan sehari sebelumnya. Bahkan asing mencatatkan nett buy. Namun demikian, aksi jual masih dilakukan oleh asing meskipun nilai transaksinya masih lebih rendah dibandingkan nilai pembeliannya. Justru nilai transaksi jual oleh domestik tercatat lebih besar dibanding nilai transaksi belinya dan nilai transaksi jual oleh asing. Hal ini menandakan bahwa investor lokal sebenarnya masih dilanda kekhawatiran akan kondisi bursa saham yang belum jelas arahnya karena faktor makroekonomi sehingga buru-buru profit taking dan terlihat seperti hit and run.
Kenaikan yang terjadi lebih disebabkan technical rebound karena dari sisi fundamental sendiri belum adanya faktor yang signifikan membuat IHSG menguat. Pasar sedang menunggu data BPS terkait inflasi Januari; langkah BI terkait berubah / tidaknya BI rate; dan Pemerintah terkait penyelesaian masalah distribusi pangan untuk mengendalikan harga yang masih tinggi dan rencana pembatasan BBM bersubsidi.
Selain itu, penguatan yang terjadi dimungkinkan karena pasar menyambut positif penundaan pengumuman harga right issue BMRI di harga Rp 5.000-5.100 yang dirasa kerendahan. Akibat penguatan ini, pasar obligasi dan pasar valas juga ramai sehingga harga obligasi mayoritas tercatat menguat dan nilai tukar Rupiah pun menguat. Investor melepas US$ dan membeli Rupiah untuk ditransaksikan kembali di pasar saham dan obligasi.
Bursa Asia Pasifik masih bergerak mixed dengan mayoritas menguat seiring dengan earning seasons dan outlook positif kinerja emiten-emiten, kecuali Hang Seng dan Shanghai terkait kekhawatiran pengetatan moneter di China. Selain itu, bursa saham New Zealand, Thailand, Malaysia, Sri Lanka, dan India juga tercatat turun. Bursa saham Eropa mayoritas melemah kecuali bursa saham Irlandia, Luxemburg, Swedia, dan Denmark seiring dengan keluarnya laporan angka PDB Inggris yang buruk. Pasar juga masih mencerna pernyataan Presiden ECB bahwa Eropa sudah mulai bisa meningkatkan suku bunga acuannya dalam waktu dekat untuk mengatasi inflasi. Hal ini mengindikasikan bahwa selain masalah utang, kawasan Eurozone juga terkena masalah inflasi.
Dari bursa saham AS, mayoritas menguat kecuali NYSE, bursa saham Kanada, dan Meksiko. Padahal data ekonomi consumer confidence tercatat naik di atas perkiraan seiring cerahnya outlook lahan pekerjaan. The Conference Board's sentiment index tercatat naik menjadi 60,6 dari 53,3 di bulan sebelumnya. Di sisi lain, untuk data perumahan mengalami penurunan. The S&P/Case Shiller index of home values turun 1,6% di November. Harga rumah pun juga turun 0,5% dari Oktober. Investor juga sedang menunggu hasil pertemuan FOMC The Fed mengenai outlook ekonomi AS ke depannya. Diperkirakan outlook ekonomi membaik. Tapi, terkait suku bunga kemungkinan
tidak akan berubah di level 0-0,25% saat ini. Meskipun ada sinyal kenaikan inflasi di AS.
Pada perdagangan Rabu (26/1) diperkirakan IHSG akan berada pada support 3.310-3.372 dan resistance 3.470-3.508. Akhirnya IHSG membentuk pola spinning tops atau tepatnya homing pigeon setelah tren penurunan yang umumnya mengindikasikan adanya reversal. Bila pasar mendukung maka IHSG bisa melanjutkan penguatan. Posisi IHSG tertahan untuk jatuh dan menemukan momentum kenaikan. MACD terlihat masih melemah namun, dengan histogram negatif yang memendek. RSI, William's %R, dan Stochastic telah menembus area oversold dan terlihat mulai reversal meski belum signifkan. Pasar memang belum menentu arahnya. Investor juga masih menunggu sinyal dari BPS dan BI terkait angka inflasi dan BI rata. Selama itu belum jelas, pasar kemungkinan akan memanfaatkan sinyal-sinyal positif dari global dan masih bersifat short term trading bahkan hit and run. Penguatan yang hanya bersifat technical rebound dan tidak didukung dengan data dan berita fundamental yang kuat, mengakibatkan penguatan hanya bersifat sementara.
(qom/qom)











































