Indeks sektoral saham bergerak mix dengan pelemahan pada indeks konsumer yang turun 7,43% ke level 1.102,14; indeks pertambangan turun 0,96% ke level 3.140,41; indeks perdagangan turun 0,87% ke level 476,90; indeks perkebunan turun 0,46% ke level 2.070,49; dan indeks infrastruktur turun 0,30% ke level 744,64. Sementara penguatan pada indeks aneka industri yang naik 1,67% ke level 1.011,86; indeks properti naik 0,48% ke level 188,63; indeks keuangan naik 0,30% ke
level 461,41; dan indeks industri dasar naik 0,005% ke level 382,06. Indeks MBX dan DBX melemah. IHSG mengalami net foreign buy sebesar Rp 599,11 miliar dengan total pembelian asing Rp 1,94 triliun dan total penjualan asing mencapai Rp 1,34 triliun.
Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Astra International naik Rp 1.100 ke Rp 57.900; Indo-Rama Synthetics (INDR) naik Rp 350 ke Rp 2.425; Chandra Asri Petrochemical (TPIA) naik Rp 175 ke Rp 3.700; Multibreeder Adirama Indonesia (MBAI) naik Rp 150 ke Rp 14.000; Bank Mandiri (BMRI) naik 150 ke level 6.300; Goodyear Indonesia (GDYR) naik 100 ke Rp 9.500; Modern International (MDRN) naik Rp 70 ke Rp 2.000; Berlina (BRNA) naik Rp 60 ke Rp 1.480; dan Bentoel International Investama (RMBA) naik 60 ke Rp 890.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akan tetapi, sekitar 70 menit sebelum penutupan perdagangan, IHSG mulai didera aksi jual sehingga penguatannya terhambat. Pelemahan ini membawa IHSG menyentuh level 3.597,07 sebagai level terendahnya. Setelah itu, IHSG sempat bangkit dan ditutup di level 3.607,11. Volume perdagangan dan nilai total transaksi mengalami penurunan. Investor asing masih mencatatkan nett buy namun, dengan kenaikan nilai transaksi jual. Justru investor domestik yang mencatatkan nett sell dan inilah yang memicu pelemahan IHSG. Pergerakan nilai tukar Rupiah menguat terhadap US$ yang ditutup di Rp 8.710 dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp 8.720 per US$. Pelemahan dipicu oleh faktor koreksi teknikal. Bursa saham Asia Pasifik mayoritas menguat kecuali Pakistan, Bangladesh, Vietnam, dan Laos. Penguatan ini didukung oleh pendapatan emiten yang naik sehingga membuat investor tertarik kembali untuk trading . Indeks Nikkei naik ditengah kehati-hatian investor yang menunggu hasil penanganan radiasi nuklir dan ekpektasi kenaikan permintaan emiten konstruksi dan infrastruktur untuk rekontruksi. Di China, 5 bank terbesarnya membukukan laba yang memuaskan yang didukung kenaikan profitabilitas pinjaman dan turunnya provisi kredit.
Bursa saham Eropa mayoritas menguat, kecuali Spanyol, Itali, Iceland, dan Portugal. Krisis utang Eropa dan ketegangan geopolitik di Libya sempat mendorong investor melakukan profit taking sehingga menekan bursa saham Eropa di akhir pekan meskipun masih berada di jalur positif. Saham teknologi justru menguat. Sementara sektor lain mengalami pelemahan. Lembaga pemeringkat S&P telah menurunkan peringkat utang Portugal. Padahal sebelumnya juga telah diturunkan oleh Moody's. Pasar merespon positif hasil-hasil dari European Union (EU) Economic Summit di Brussel dimana menghasilkan keputusan yang baik terhadap penyelesaian masalah utang di Eurozone. Meski belum terealisasikan, terlihat Uni Eropa sudah menyepakati dana talangan (European Financial Stability Facility /EFSF) senilai β¬ 440 miliar. Termasuk, mekanisme untuk negara-negara yang bermasalah. Sentimen lain adalah krisis air bersih di Jepang yang dikabarkan tercemar oleh radiasi nuklir. Negara-negara lain termasuk Eropa mulai meningkatkan pengawasan terhadap impor makanan dari Jepang.
Bursa kawasan AS mayoritas menguat kecuali Meksiko, Chile, Peru, dan Kolumbia. Indeks S&P 500 memberikan performa baik dalam minggu ini, tetapi volume perdagangan saham masih tipis. Kenaikan indeks saham didukung kenaikan saham teknologi, salah 1 nya seperti Oracle Corp setelah outlooknya dinaikkan. Departemen Perdagangan AS melaporkan pertumbuhan ekonomi tumbuh lebih cepat dari perkiraan sebelumnya pada Q4-10 karena ada peningkatan permintaan. Data US Consumer turun pada Maret ke level terendah.
Pada perdagangan Senin (28/3) diperkirakan IHSG akan berada pada support 3.565-3.586 dan resistance 3.634-3.660. Candle mulai mulai terlihat pelemahannya dengan membentuk spinning tops di posisi atas sehingga mengindikasikan akan adanya reversal dengan kecenderungan turun. MACD telah membentuk golden cross dan bergerak naik namun, sedikit tertahan. RSI, William's %R, dan Stochastic mulai reversal setelah menembus area overbought . Sewaktu candle membentuk long legged doji pada 22/3/11 sebenarnya mengindikasikan akan adanya pelemahan namun, ternyata konfirmasi tersebut gagal dan candle terus menguat. Kali ini candle dirasa kurang kuat melanjutkan kenaikannya. Selain itu, upper boliinger band telah tersentuh maka candle akan menyesuaikan posisinya sehingga kemungkinan akan ada pelemahan lanjutan. Akan tetapi, dengan adanya sentimen rilis laporan kinerja emiten, deflasi Maret, dan pengaruh positif dari menghijaunya bursa regional dan global, serta berkurangnya aksi profit taking bisa menahan pelemahan IHSG sehingga tidak terlalu dalam.
(qom/qom)











































