Indosurya: IHSG Masih Rawan Koreksi

Indosurya: IHSG Masih Rawan Koreksi

- detikFinance
Senin, 30 Mei 2011 07:07 WIB
Jakarta - IHSG kembali menguat dengan naik 17,56 poin (0,46%) di level 3.832,38. Total volume perdagangan BEI mencapai3,55 miliar unit saham dengan nilai total Rp 3,34 triliun. Sebanyak128 saham naik, 97 saham turun, dan 104 saham stagnan. LQ-45 naik 0,36% ke level 681,30 dan Jakarta Islamic Index (JII) naik 0,21% ke level 531,45.

Indeks sektoral saham mayoritas bergerak menguat kecuali indeks aneka industri yang melemah0,03% ke level 1.070,42. Sementara penguatan pada indeks perkebunan yang naik 2,16% ke level 2.392,11; indeks perdagangan naik 1,33% ke level 503,89; indeks properti naik 0,81% ke level 209,24; indeks keuangan naik 0,52% ke level 499,62; indeks pertambangan naik 0,41% ke level 3.249,97; indeks infrastruktur naik 0,20% ke level 796,24; indeks konsumer naik 0,12% ke level 1.124,61; indeks industri dasar naik
0,08% ke level 403,56; dan indeks manufaktur naik 0,06% ke level 869,06. Indeks MBX, DBX, dan ISSI menguat. IHSG mengalaminet foreign buy sebesar Rp 329,80 miliar dengan total pembelianasing Rp 1,45 triliun dan total penjualan asing mencapai Rp 1,12 triliun.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Dian Swastatika Sentosa (DSSA) naik Rp 2.650 ke Rp 16.350; Smart (SMAR) naik Rp 750 ke Rp 7.950; Lionmesh Prima (LMSH) naik Rp 700 ke Rp 5.600; Merck (MERK) naik Rp 550 ke Rp 100.500; Indo TambangrayaMegah (ITMG) naik Rp 550 ke level Rp 47.650; Multi Prima Sejahtera (LPIN) naik Rp 450 ke Rp 3.600; Surya Citra Media (SCMA) naik Rp 350 ke Rp 4.950; Indomobil Sukses International (IMAS) naik 300 ke level 9.000; dan United Tractors (UNTR) naik 300 ke Rp 22.550.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

IHSG masih melanjutkan penguatannya di akhir pekan. Menghijaunya bursa saham Asia seiring dengan kenaikan harga komoditas Asia memberikan pengaruh positif bagi IHSG. TampaknyaIHSG kembali menapak menuju penguatannya setelah di awal pekan terhempas hingga mendekati area oversold . Selain terkena imbas penguatan regional, IHSG juga mendapat sentimen positif dari kenaikan cadangan devisa RI yang naik US$ 1 miliar, dari US$ 115,8 miliar per 6 Mei 2011 menjadi US$ 116,5 miliar per 20 Mei 2011 dan ekspektasi masih terjadinya deflasi Mei. Selama perdagangan,IHSG sempat menembus level 3.835,46 (level tertingginya) menjelang penutupan dan juga sempat menyentuh level 3.790,90 (level terendahnya) di awal perdagangan dan akhirnya berhasil bertengger di level 3.832,38. Volume perdagangan dan nilai total transaksi tercatat turun. Investor asing mencatatkan nett buy dengan kenaikan nilai transaksi beli dan penurunan nilai transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett sell .

Pergerakan nilai tukar Rupiah/US$ berdasarkan kurs BI menguat di level Rp 8.565/US$ dari sebelumnya di Rp 8.576/US$. Pergerakan Rupiah dipengaruhi data preliminary GDP AS untuk Q1-11 dirilis di level 1,8% dari prediksi 2,2%. Padahal, pertumbuhanAS di Q4-10 di level 3,2%. Di sisi lain, imbas berita ketertarikan China atas obligasi Portugal menguatkan Euro yang akhirnya US$ pun ditransaksikan melemah.

Bursa saham Asia Pasifik bergerak menguat kecuali bursa saham Jepang dan China. Pergerakan bursa Asia Pasifik dipengaruhi oleh kenaikan laba emiten di tengah data yang meragukan dari pertumbuhan ekonomi AS. Sekitar 53% dari 633 perusahaan di indeks MSCI Asia yang melaporkan pendapatan sejak 11 April membukukan peningkatan laba dan 40% di atas estimasi. Padahal sebelumnya sempat melemah seiring dengan kekhawatiran krisis utang Yunani yang mungkin lebih buruk dan terdapat sentimen
negatif dimana Indeks Harga Konsumen(IHK) inti Jepang pada bulan April naik 0,1% untuk pertama kalinya yang didorong tahun ajaran baru dan biaya komoditas yang mulai naik. Selain itu, penjualan ritel turun 4,8% pada bulan April dibanding tahun sebelumnya.Tetapi, Pemerintah Jepang menganggap penurunannya termasuk lambat dari bulan sebelumnya mengingat ekonomi Jepang sedang berada pada jalur pemulihan pasca gempa.

Bursa saham Eropa bergerak menguat kecuali bursa saham Yunani. Pergerakan bursa saham Eropa dipengaruhi imbas penguatan pada bursa saham Asia Pasifik dan kenaikan harga logam yang mendorong saham pertambangan menguat, terutama harga tembaga karena pelemahanUS$ seiring perlambatan ekonomi AS. Ditambah data kepercayaan konsumen Inggris yang menguat tajam dalam 18 tahun terakhir.

Sementara bursa saham Yunani melemah seiring dengan langkah penghematan untuk penyelesaian krisis utang. Bursa kawasan AS mayoritas bergerak menguat kecuali Argentina, Kolumbia, dan Peru.

Pergerakan bursa saham AS masih naik di tengah sinyal perlambatan ekonomi yang ditopang oleh pelemahan US$ dan penguatan harga komoditas. Tetapi, perdagangannya berjalan sepi menjelang libur bursa menyambut Memorial Day pada Senin ini. Pelemahan US$ justru membantu tumbuhnya ekspor, pendapatan, dan laba perusahaan multinasional di AS. Pasar juga mendapat dorongan dari ekspektasi The Fed yang berencana memberikan stimulus ekonomi untuk merangsang pertumbuhan dan keinginan negara anggota G8 akan terus mengusahakan penguatan ekonomi, dengan pengurangan utang. AS pun bertekad untuk menjalankan strategi pengurangan defisit anggaran pemerintah.

Pada perdagangan Senin (30/5) diperkirakan IHSG akan berada pada support 3.775-3.804 dan resistance 3.848-3.864. Candle IHSG perlahan mulai menapaki penguatannya dimana sebelumnya membentuk candle hampir menyerupai white marubozu, di akhir pekan masih menguat dengan membentuk hammer. Tetapi, kali ini hammer yang terbentuk ialah hanging man yang menggambarkanmulai tertahannya minat kekuatan daya beli untuk mendorong harga ke atas. Kekuatan daya jual mulai berusaha menekan harga ke bawah. MACD berusaha membentuk golden cross dengan histogram negatif yang memendek.RSI, William's%R, dan Stochastic reversal dan berusaha bergerak menuju area overbought. IHSG yang secara perlahan naik belum sepenuhnya didukung dengan volume. Meski asing sudah dalam posisi nett buy namun, masih rawan untuk profit taking apalagi belum ada sentimen positif yang signifikan mengangkat IHSG. Pasar masih wait & see untuk rilis inflasi. Investor tetap mewaspadai bila mulai ada sinyal penurunan.

(qom/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads