Indeks sektoral saham mayoritas bergerak melemah kecuali indeks keuangan yang menguat 0,03% ke level 492,35 dan indeks infrastruktur naik 0,01% ke level 768,24. Sementara pelemahan pada indeks aneka industri turun 2,16% ke level 1.046,18; indeks manufaktur turun 0,91% ke level 856,15; indeks properti turun 0,89% ke level 208,33; indeks pertambanganturun 0,82% ke level 3.269,75; indeks industri dasar turun 0,73% ke level 394,63; indeks perdagangan turun 0,66% ke level 510,75; indeks perkebunan turun 0,44% ke level 2.348,14; dan indeks konsumer turun 0,02% ke level 1.120,98. Indeks MBX, DBX, dan ISSI melemah. IHSG mengalami foreign sell sebesar Rp 142,03 miliar dengan total pembelian asing Rp 969 miliar dan total penjualan asing mencapai Rp 1,11 triliun.
Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranyaDelta Djakarta (DLTA) naik Rp 3.000 ke Rp 123.000; Dian Swastatika Sentosa (DSSA) naik Rp 1.500 ke Rp 16.000; Bank Ekonomi Raharja (BAEK) naik Rp 160 ke Rp 1.850; Gudang Garam (GGRM) naik Rp 150 ke level Rp 43.350; Smart (SMAR) naik Rp 100 ke Rp 7.000; H.M Sampoerna (HMSP) naik Rp 100 ke Rp 29.200; BFI Finance Indonesia (BFIN) naik Rp 75 ke Rp 4.550; Alumindo Light Metal Industry (ALMI) naik Rp 70 ke level Rp 1.050; dan Trikomsel Oke (TRIO) naik Rp 60 ke Rp 850.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sepanjang perdagangan, IHSG terus bergerak di area negatif. Selama perdagangan, IHSG sempat menembus level 3.821,84 (level tertingginya) di awal perdagangan dan juga sempat menyentuh level 3.779,28 (level terendahnya) menjelang penutupan dan akhirnya berhasil bertengger di level 3.787,65. Volume perdagangan dan nilai total transaksi tercatat turun. Investor asing mencatatkan nett sell dengan penurunan nilai transaksi beli dan nilai transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett buy.
Pergerakan nilai tukar Rupiah/US$ berdasarkan kurs BI menguat di level Rp 8.518/US$ dari sebelumnyadi Rp 8.523/US$. Penguatan ini berlawanan dengan pelemahan IHSG. Kenaikan ini seiring dengan penguatan harga kontrak minyak mentah Asia sehingga memberikan sentimen positif bagi mata uang asia, termasuk Yuan yang sebelumnyamelemah. Penguatan juga seiring dengan penurunan US$ terhadap Euro karena spekulasi pemulihanekonomi AS akan terganggu dan ekspektasi ECB akan menaikkan suku bunganya.
Bursa saham Asia Pasifik bergerak melemah kecuali bursa saham Jepang, China, Aussie, dan Thailand. Pergerakan bursa Asia Pasifik dipengaruhi oleh penurunan kenaikan harga produsen Jepang di bulan Mei sebesar 2,2% dari Mei tahun lalu dimana April telah naik 2,5%. Indeks harga produsen KorSel di bulan Mei naik 6,2% dari Mei tahun lalu dimana Maret telah naik 7,3%. Di sisi lain, Bank Sentral KorSel kembalitelah menaikkan suku bunga untuk yang ketiga kalinya di tahun ini dengan naik 25 bps menjadi 3,25%. Lalu, dirilis pula data surplus perdagangan China di Mei sebesar US$ 13,05 miliar dan di April surplus US$ 11,4 miliar dimana di bawah perkiraan surplus sebesar US$ 19,3 miliar serta rilis data produksi India yang melambat di April dengan naik 6,3% dari tahun sebelumnya dimana Maret naik 8,8%. Selain itu, rilis berita Bank Dunia yang memproyeksikan pertumbuhan ekonomi emerging market akan mengalami perlambatan dari 7,3% di tahun 2010 menjadi rata-rata 6,3% pada periode 2011-2013 dan prediksi bahwa Asia dan Amerika Latin berpotensi overheating turut melemahkan pasar.
Bursa saham Eropa mayoritasbergerak melemah.Pergerakan bursa saham Eropa dipengaruhioleh turunnya harga logam yang menekan sektor pertambangan dan data perdaganga China dimana pengiriman dalam negerinya naik 28% dari tahun sebelumnya serta ekspor naik 19%. Pertumbuhan manufaktur Inggris turun di bawah perkiraan pada April dimana turun 1,5% dari bulan sebelumnya. Sementara Bank Sentral Jerman, Bundesbank, menaikkan perkiraan pertumbuhan GDP Jerman yang naik 3,1% tahun ini dan 1,8% di tahun 2012 atau di atas perkiraan Februari lalu sebesar 2,5% di 2011 dan 1,5% di 2012.
Bursa kawasan Amerika mayoritas bergerak melemah kecuali Panama dan Venezuela. Pergerakan bursa saham AS dipengaruhi oleh pelemahan yang terjadi pada bursa saham Asia Pasifik dan Eropa dimana data-data yang keluar menghilangkan momentumkenaikan. Investor sebelumnya mengapresiasi data-data AS yang muncul dari neraca perdagangan namun, data-data ekonomi dari Asia khususnya dari China dimana data perdagangannyadi bulan Mei yang kenaikannya tidak sesuai ekspaktasi sebelumnya memperlihatkan ekonomi sedang melambat.Dari AS sendiri dirilis data import price bulanan yang naik 0,2% dari sebelumnya2,2% dan tahunan naik 12,5% dari 11,1%. Sementara export price bulanan naik 0,2% dari sebelumnya 1,1% dan tahunan naik 9% dari sebelumnya 9,6%.
Pada perdaganganSenin (13/6) diperkirakan IHSG akan berada pada support 3.753-3.770 dan resistance 3.813-3.838. Candle IHSG yang kembal imelemah, kemarin kembali membentuk candle spinning tops di posisi bawah. Seharusnya pola spinning tops yang terbentuk sebelumnya mampu reversal namun, tidak didukung secara fundamental. Candle bergerak mendekati lower bollinger bands. Diharapkan posisi candle yang mendekat ioversold ini bisa membalikkan posisi. MACD cenderung turun dengan histogram negatif yang memanjang.RSI, William's%R, dan Stochastic bergerak menuju ke area oversold . Angin segar dari penguatan bursa saham Eropa dan AS ternyata belum mampu mengantarkan IHSG ke area hijau. Apalagi data di akhir pekan tidak signifikan pertumbuhannya. IHSG kembali dalam tren pelemahannya.Untuk kondisi seperti ini, investor bisa cermati saham-saham second liner yang masih memiliki potensi untuk naik.
(qom/qom)











































