Indeks sektoral saham mayoritas bergerak melemah diawali pada indeks industri dasar yang turun 0,88% ke level 411,78; indeks infrastruktur turun 0,78% ke level 765,62; indeks properti turun 0,74% ke level 209; indeks konsumer turun 0,49% ke level 1.210,45; indeks perkebunan turun 0,47% ke level 2.332,18; indeks pertambangan turun 0,37% ke level 3.331,76; indeks manufaktur turun 0,28% ke level 942,49; dan indeks perdagangan turun 0,15% ke kevel 545,51.
Sementara indeks aneka industri naik 0,44% ke level 1.233,59 dan indeks keuangan naik 0,39% ke level 527,58. Indeks MBX, DBX, dan ISSI melemah. IHSG mengalami net foreign buy sebesar Rp 61,77 miliar dengan total pembelian asing Rp 1,57 triliun dan total penjualan asing mencapai Rp 1,51 triliun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
IHSG akhirnya tidak kuat untuk naik lebih tinggi lagi dan terimbas pelemahan bursa-bursa kawasan regional yang terpengaruh pelemahan data ketenagakerjaan AS dan rilis inflasi China di akhir pekan. Investor memanfaatkan kesempatan ini dengan melakukan profit taking terhadap hampir mayoritas saham. Selama perdagangan, IHSG sempat menembus level 4.002,76 (level tertingginya) di pertengahan sesi I dan juga sempat menyentuh level 3.371,32 (level terendahnya) menjelang penutupan sesi II dan akhirnya berhasil bertengger di level 3.995,59. Volume perdagangan dan nilai total transaksi tercatat turun. Investor asing mencatatkan nett buy dengan penurunan nilai transaksi beli dan nilai transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett sell.
Pergerakan nilai tukar Rupiah/US$ berdasarkan kurs BI menguat di level Rp 8.522/US$ dari sebelumnya di Rp 8.524/US$. Sebelumnya Rupiah sempat melemah yang dipicu oleh profit taking setelah apresiasi sebelumnya. Selain itu, Rupiah juga terpengaruh dari adanya ekspektasi bahwa Italia akan terkena krisis utang Uni Eropa berikutnya. Hal ini setelah surat kabar Jerman, Die Welt melaporkan bahwa ECB berusaha menghimpun bantuan sebesar β¬1,5 triliun ($ 2,13 triliun) untuk menutupi krisis di Italia. Di akhir pekan akan dirilis hasil stress test perbankan Uni Eropa dan di pasar muncul spekulasi, perbankan Italia mungkin tidak akan lolos. Tetapi, hal itu sudah dibantah oleh Gubernur Bank Sentral Italia. Akibatnya Euro jatuh ke posisi terendah dalam 2 minggu terhadap US$.
Bursa saham Asia Pasifik bergerak melemah kecuali China dan Laos yang dipengaruhi oleh respon negatif investor terhadap rilis nonfarm payrolls dan unemployment rate AS serta kenaikan CPI China di atas estimasi sehingga menghapuskan harapan investor akan kondisi pemulihan ekonomi global pasca penurunan klaim penggangguran AS. Bursa saham Aussie melemah tajam karena investor mencerna dampak rencana pajak karbon Canberra terhadap kinerja emiten pertambangan, baja, dan transportasi. Bursa saham China menguat seiring optimisme investor bahwa pemerintah tidak akan melanjutkan upaya pengetatan kebijakan moneter dalam waktu dekat. Dari Asia Pasifik dirilis laporan ekonomi, yaitu Home Loans (MoM) Aussie sebesar 4,4% dari sebelumnya 4,6%; Industrial Production Malaysia di level -5,1% dari sebelumnya -1,7%; Household Confidence Jepang sebesar 35,3 dari sebelumnya 34,2; dan Machine Tool Orders (YoY) Jepang sebesar 53,3% dari sebelumnya 34%.
Bursa saham Eropa mayoritas melemah yang dipengaruhi oleh ekspektasi negatif investor terhadap kemungkinan terjadinya krisis utang di Italia. Selain itu, juga terpengaruh oleh pelemahan bursa saham Asia setelah investor melakukan aksi jual seiring respon negatif terhadap kenaikan inflasi China dan rilis data ketenagakerjaan AS. Investor berharap pertemuan pejabat Uni Eropa dapat menghentikan spekulasi itu. Data ekonomi yang dirilis, yaitu Industrial Production (MoM) Perancis di level 2% dari sebelumnya -0,5%.
Bursa kawasan Amerika mayoritas melemah kecuali Panama dan Venezuela yang dipengaruhi oleh respons negatif terhadap data-data ekonomi AS di akhir pekan, kenaikan inflasi di China, dan kekhawatiran akan meluasnya krisis utang di Eropa setelah dikabarkan Italia juga berpotensi terkena krisis. Data ekonomi yang dirilis, yaitu Housing Starts Kanada di level 197.000 dari sebelumnya 194.000.
Pada perdagangan Selasa (12/7) diperkirakan IHSG akan berada pada support 3.958-3.977 dan resistance 4.008-4.021. IHSG membentuk candle hammer dimana sebelumnya membentuk candle menyerupai white marubozu. MACD masih bergerak naik meski terbatas dengan histogram positif yang mendatar. RSI, William's %R, dan Stochastic masih berada di atas area overbought namun, bergerak terbatas. Laju IHSG mulai terbatas dan dimungkinkan bisa mengalami koreksi. Apalagi kondisi bursa global juga sedang melemah. Diharapkan adanya 3 saham baru hari ini (PTIS, SDMU, dan ALDO) setidaknya bisa menahan koreksi IHSG lebih lanjut.
(qom/qom)











































