Indosurya: Angin Segar dari Bursa AS

- detikFinance
Selasa, 23 Agu 2011 08:03 WIB
Jakarta - IHSG melemah 3,13 poin (0,08%) di level 3.839,62. Total volume perdagangan BEI mencapai 4,95 miliar unit saham dengan nilai total Rp 4,62 triliun. Sebanyak 128 saham naik, 106 saham turun, dan 87 saham stagnan. LQ-45 turun 0,20% ke level 677,83 dan Jakarta Islamic Index (JII) naik 0,66% ke level 533,15.

Indeks sektoral saham bergerak mixed dengan kenaikan diawali pada indeks aneka industri yang naik 1,45% ke level 1.284,47; indeks manufaktur naik 1,58% ke level 950,65; indeks konsumer naik 1,45% ke level 1.284,47; indeks industri dasar naik 1,19% ke level 390,69; indeks properti naik 0,71% ke level 223,71; indeks perkebunan naik 0,69% ke level 2.265,33; dan indeks perdagangan naik 0,15% ke level 522,49. Sementara pelemahan pada indeks keuangan yang turun 1,78% ke level 498,35; indeks infrastruktur turun 0,80% ke level 722,05; dan indeks pertambangan turun 0,44% ke level 2.948,60. Indeks MBX dan DBX melemah namun, ISSI menguat. IHSG mengalami
net foreign sell sebesar Rp 684,54 miliar dengan total pembelian asing Rp 1,68 triliun dan total penjualan asing mencapai Rp 2,36 triliun.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Astra International (ASII) naik Rp 1.650 ke Rp 67.750; Gudang Garam (GGRM) naik Rp 950 ke Rp 53.950; Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) naik Rp 550 ke Rp 19.350; Hero Supermarket (HERO) naik Rp 500 ke level Rp 8.000; Indocement Tunggal Prakarsa (INTP) naik Rp 400 ke level Rp 15.000; Unggul Indah Cahaya (UNIC) naik Rp 390 ke level Rp 2.100; Indofood Sukses Makmur (INDF) naik Rp 350 ke level Rp 6.450; Century Textile Industry (CNTX) naik Rp 300 ke level Rp 5.950; dan Semen Gresik (SMGR) naik Rp 250 ke level Rp 9.050.

IHSG masih dilanda aksi jual investor, meski intensitasnya mulai berkurang, seiring sentimen negatif dari ketakutan pelaku pasar lokal atas isu perlambatan ekonomi global yang mengarah pada resesi di tengah minimnya sentimen positif dalam negeri. Selain itu, dalam minggu terakhir ini investor juga sudah mulai mengurangi aktivitas transaksinya. Pasar masih menantikan langkah dari para pembuat kebijakan baik dari Eropa maupun dari AS, salah satunya adalah pertemuan antara MenKeu Jerman dan Perancis sebagai lanjutan dari pertemuan Pemimpin negara keduanya. Pasar juga menantikan kebijakan lanjutan dari The Fed di akhir pekan nanti. IHSG diawal perdagangan sempat menguat tipis 2,940 poin (0,08%) ke level 3.845,688 namun, oleh karena minimnya sentimen positif maka IHSG kembali melemah. Selama perdagangan, IHSG sempat menembus level 3.854,19 (level tertingginya) di awal sesi 1 dan juga sempat menyentuh level 3.761,02 (level terendahnya) di awal sesi 2 dan akhirnya berhasil bertengger di level 3.839,62. Volume perdagangan tercatat turun dan nilai total transaksi tercatat naik. Investor asing mencatatkan nett sell dengan penurunan nilai transaksi beli dan kenaikan nilai transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett buy.

Pergerakan nilai tukar Rupiah/US$ berdasarkan kurs BI menguat di level Rp 8.552/US$ dari sebelumnya di Rp 8.558/US$ yang dipengaruhi oleh respon positif pasar setelah Spanyol berkomitmen untuk mengendalikan defisit anggarannya. Pasar juga melihat tekanan jual di pasar saham mulai sedikit stabil walaupun masih dibayangi resesi baik di AS dan Eropa. Sementara itu, pernyataan MenKeu Jerman dimana pasar modal cukup optimistis terhadap euro juga turut meredam kekhawatiran pasar. Saat ini, fokus pasar adalah pertemuan The Fed di akhir pekan dimana ingin melihat persepsi bank sentral terhadap ekonomi global dan kemungkinan adanya kebijakan nyata yang dikeluarkan.

Bursa saham Asia Pasifik bergerak mixed dengan pelemahan pada Jepang, China, dan KorSel yang dipengaruhi imbas pelemahan bursa saham AS dan Eropa di akhir pekan dan adanya kekhawatiran investasi China di AS akan terganggu. Adanya spekulasi The Fed akan mengumumkan langkah-langkah untuk menstimulus ekonomi namun, gagal meredam kekhawatiran terhadap krisis utang Eropa. Investor masih dilanda kekhawatiran setelah laporan menunjukkan ekonomi AS melambat sehingga memicu spekulasi The Fed akhir pekan ini akan memulai pembelian aset jilid tiga (QE-3), untuk membantu mempertahankan pemulihan ekonomi. Dari Asia Pasifik dirilis laporan ekonomi, yaitu GDP (YoY) Thailand di level 2,6% dari sebelumnya 3%.

Bursa saham Eropa ditutup mixed dengan pelemahan pada bursa saham Jerman, Iceland, Luxemburg, dan Denmark dipicu respon positif investor terhadap Spanyol yang berkomitmen untuk mengendalikan defisit anggarannya. Investor juga diuntungkan dengan kenaikan saham-saham energi seiring meningkatnya tensi geopolitik di Libya. Padahal di awal perdagangan, pergerakan bursa saham Eropa masih melemah seiring kekhawatiran ekonomi global menunju resesi dan jeratan utang Uni Eropa. Tidak ada data ekonomi yang dirilis semalam.

Bursa kawasan Amerika menguat kecuali Argentina, Brazil, dan Chile dipengaruhi aksi bargain hunting investor setelah saham-saham melemah tajam sebelumnya. Investor terlihat berani untuk ambil risiko. Bursa saham AS didorong saham teknologi berkapitalisasi besar dan industri namun, saham sektor perbankan mengalami penurunan. Data ekonomi yang dirilis, yaitu Retail Sales (YoY) Meksiko di level 4,8% dari sebelumnya 1%.

Pada perdagangan Selasa (23/8) diperkirakan IHSG akan berada pada support 3.732-3.795 dan resistance 3.888-3.918. IHSG membentuk hammer . Posisi c andle kembali mendekati lower bollinger bands. MACD tertahan kenaikannya dengan histogram negatif yang mendatar. RSI, William's %R, dan Stochastic gagal menuju area overbought. Meski langkah IHSG untuk kembali naik masih tertahan oleh minimnya sentimen positif namun, penutupan bursa saham AS yang menghijau bisa memberikan angin segar bagi IHSG untuk naik. Apalagi jika hal ini didukung dengan pembukaan bursa saham kawasan Asia yang positif. Cermati saham-saham BMRI, BBRI, ASII, dan INDF.

(qom/qom)