Indeks sektoral saham bergerak naik dengan penguatan yang diawali pada indeks keuangan yang naik 3,93% ke level 448,09; indeks industri dasar naik 3,37% ke level 347,91; indeks infrastruktur naik 2,45% ke level 665,15; indeks manufaktur naik 1,53% ke level 837; indeks aneka industri naik 0,96% ke level 1.068,79; dan indeks konsumer naik 0,87% ke level 1.134,12. Sementara pelemahan pada indeks pertambangan turun 0,44% ke level 2.529,52; indeks perkebunan turun 0,32% ke level
2.041,51; indeks perdagangan turun 0,09% ke level 476,76; dan indeks properti turun 0,05% ke level 204,15. Indeks MBX dan ISSI menguat namun, DBX melemah. IHSG mengalami net foreign sell sebesar Rp 603,37 milyar dengan total pembelian asing Rp 1,33 triliun dan total penjualan asing mencapai Rp 1,94 triliun.
Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Indo Tambangraya Megah (ITMG) naik Rp 1.900 ke Rp 40.650; Indocement Tunggal Prakarsa (INTP) naik Rp 1.300 ke Rp 12.500; H.M Sampoerna (HMSP) naik Rp 1.250 ke Rp 29.750; AStra Internasional (ASII) naik Rp 850 ke level Rp 58.850; Semen Gresik (SMGR) naik Rp 450 ke level Rp 8.150; Bank Central Asia (BBCA) naik Rp 400 ke level 7.500; Unilever Indonesia (UNVR) naik Rp 350 ke level Rp 15.350; Bank Rakyat Indonesia (BBRI) naik Rp 300 ke level Rp 5.600; dan Telekomunikasi Indonesia (TLKM) naik Rp 300 ke level Rp 7.200.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
beli dan nilai transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett buy.
Pergerakan nilai tukar Rupiah/US$ berdasarkan kurs BI di level Rp 8.738/US$ dari sebelumnya di Rp 8.988/US$ dipicu adanya intervensi dari BI untuk mencegah depresiasi Rupiah yang terlaludalam. Di awal, Rupiah masih melemah karena faktor apresiasi US$ setelah The Fed mengeluarkan kebijakan Operation Twist di hari sebelumnya. The Fed menjual obligasi jangka pendek dan membeli obligasi tenor jangka panjang pemerintah AS senilai US$400 miliar sehingga memicu pasar membeli obligasi AS dan memperkuat nilai US$. Selain itu, dengan adanya pembelian tersebut menandakan yield obligasi AS jadi menarik di market untuk jangka panjang sehingga investor terdorong untuk membeli US$ di pasar uang. Penguatan Rupiah juga didukung oleh pertemuan G20 dan IMF yang berkomitmen mendukung penuh dalam penyelesaian krisis utang di Uni Eropa.
Bursa saham Asia Pasifik bergerak melemah kecuali Bangladesh. Sementara Jepang libur. Pergerakan dipicu masih adanya kekhawatiran terhadap upaya pemulihan global setelah pasar melihat para pembuat kebijakan dunia seolah-olah kehabisan strategi untuk mencegah resesi ekonomi global. Mayoritas indeks bursa saham Asia anjlok di tengah kekhawatiran penyebaran krisis utang Eropa dan indikasi perlambatan pertumbuhan ekonomi AS. Dari Asia Pasifik dirilis laporan ekonomi, yaitu CB Leading Index (MoM) Aussie di level -0,1% dari sebelumnya -0,8% dan Industrial Production (YoY) Taiwan tetap di level 3,9%.
Bursa saham Eropa ditutup mix dengan pelemahan pada Portugal, Iceland, Norwegia, Yunani, dan Luxemburg yang dipicu ekspektasi positif terhadap pertemuan kelompok G20 yang berjanji akan membantu pasar keuangan. Kelompok G20 mengatakan akan menyusun strategi untuk membantu sistem keuangan global sehingga mengurangi kepanikan. Tetapi, pelaku pasar belum mengetahui secara detil strategi apa yang diambil sehingga masih menimbulkan kekhawatiran di pasar. Di akhir pekan, Moody's telah mendowngrade rating 8 bank Yunani masing-masing sebanyak 2 not di tengah perjuangan ekonomi domestik dan penurunan deposito seperti diprediksi pasar. Moody's memangkas rating National Bank of Greece, EFG Eurobank Ergasias, Alpha Bank, Piraeus Bank, Agricultural Bank of Greece dan Attica Bank ke Caa2 dari B3. Emporiki Bank of Greece and General Bank of Greece diturunkan ke B3 dari B1. Data ekonomi yang dirilis diantaranya Business Survey Perancis di level 99 dari sebelumnya 105; Consumer Confidence Perancis di level 80 dari sebelumnya 86; Retail Sales (MoM) Italia di level -0,1% dari sebelumnya - 0,3%; PPI Spanyol di level 7,1% dari sebelumnya 7,5%; dan BBA Mortgage Approvals Eropa di level 35,2 ribu dari sebelumnya 33,7 ribu.
Bursa kawasan Amerika menguat kecuali Kanada, Brazil, Chile, dan Peru yang dipicu sikap optimisme terhadap hasil dari pertemuan G20. Para pelaku pasar mulai kembali ke saham dan valas setelah terus melakukan aksi jual dimana saham-saham di sektor konsumer memimpin kenaikan. Menteri-menteri keuangan yang tergabung dalam G20 membuat sebuah komitmen yang kuat terhadap upaya memulihkan perekonomian dunia sehingga bisa meredakan ketakutan di bursa saham. Data ekonomi yang dirilis yaitu Economic Activity (YoY) Argentina di level 7,7% daris sebelumnya 9,4% dan Industrial Production (YoY) Argentina di level 5,2% dari sebelumnya 7,1%.
Pada perdagangan Senin (26/9) diperkirakan IHSG akan berada pada support 3.200-3.314 dan resistance 3.482-3.538. IHSG membentuk hammer dimana sebelumnya membentuk black marubozu. Posisi candle telah melewati lower bollinger bands. MACD bergerak melemah dengan histogram negatif yang memanjang. RSI, William's %R, dan Stochastic telah menembus area oversold namun, terlihat adanya upaya reversal. Meski sentimen yang beredar di pasar belum sepenuhnya kuat mengangkat pasar namun, sinyal positif dari bursa saham AS dan hasil pertemuan G20 serta banyaknya saham-saham yang telah terdiskon banyak bisa menjadi alasan untuk kembali ke pasar saham. Penurunan yang terjadi bukan disebabkan oleh penurunan kinerja emiten sehingga masih berpeluang untuk dikoleksi.
(qom/qom)











































