Indeks sektoral saham bergerak melemah dengan penurunan yang diawali dengan indeks industri dasar yang turun 4,55% ke level 378,32; indeks pertambangan turun 3,81% ke level 2.621,22; indeks aneka industri turun 3,57% ke level 1.192,03; indeks manufaktur turun 3,31% ke level 911,82; indeks keuangan turun 2,75% ke level 495,89; indeks perkebunan turun 2,46% ke level 2.102,07; indeks properti turun 2,37% ke level 209,99; indeks konsumer turun 2,28% ke level 1.213,19; indeks perdagangan turun 1,97% ke level 518,81; dan indeks infrastruktur turun 1,42% ke level 693,71. Indeks MBX, DBX, dan ISSI melemah. IHSG mengalami net foreign sell sebesar Rp 59,08 miliar dengan total pembelian asing Rp 1,25 triliun dan total penjualan asing mencapai Rp 1,31 triliun.
Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Hexindo Adiperkasa (HEXA) naik Rp 400 ke Rp 8.250; Lionmesh Primas (LMSH) naik Rp 300 ke Rp 4.800; Indosiar Karya Media (IDKM) naik Rp 210 ke Rp 1.740; Modern Internasional (MDRN) naik Rp 150 ke Rp 3.150; Garda Tujuh Buana (GTBO) naik Rp 68 ke Rp 265; Duta Pertiwi Nusantara (DPNS) naik Rp 60 ke 265; Hero Supermarket (HERO) naik Rp 50 ke level Rp 10.000; Samudera Indonesia (SMDR) naik Rp 50 ke Rp 3.550; dan Medco Energi Internasional (MEDC) naik Rp 50 ke level Rp 2.375.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pergerakan nilai tukar Rupiah/US$ berdasarkan kurs BI di level Rp 8.893/US$ dari sebelumnya di Rp 8.835/US$ yang dipicu sikap investor yang kembali pesimis pasca rencana PM Yunani, Papandreou, yang mengajukan referendum nasional dan mosi kepercayaan dari parlemen untuk memastikan apakah rakyat Yunani bersedia melakukan reformasi ekonomi agar mendapatkan dana bantuan dari Uni Eropa. Investor membacanya bahwa rencana referendum ini membuka risiko default utang Yunani. Apalagi, salah 1 survei sebelumnya menunjukkan, mayoritas masyarakat Yunani tidak setuju dengan reformasi ekonomi yang diajukan pemerintah demi mendapatkan pertolongan dari Eropa. Belum lagi, aksi-aksi demonstrasi penentang di Yunani cukup besar yang menunjukkan bahwa masyarakat Yunani sudah mulai tidak percaya terhadap pemerintahannya. Jika rakyat setuju, Yunani akan melanjutkan program reformasi ekonominya dan mendapatkan dana bailout. Jika tidak, Yunani akan mengagendakan pemilu lebih dini untuk mengganti pemerintahan. Hal terburuk ialah Yunani akan default total dan dikeluarkan dari Uni Eropa. Secara garis besar, referendum ini memperburuk dan mementahkan upaya yang dilakukan Eropa untuk mengurangi krisis utangnya. Referendum ini juga membuyarkan harapan pasar akan adanya bantuan global pada pertemuan G20 nanti untuk membantu Yunani. Papandreou, selain mengajukan referendum, juga mengajukan mosi kepercayaan parlemen.
Bursa saham Asia Pasifik bergerak melemah kecuali China, Taiwan, New Zealand, dan KOSPI. Sementara Filipina masih ditutup libur. Pergerakan ini dipicu melemahnya data manufaktur AS (Chicago PMI sebesar 58,4 dari sebelumnya 60,4) dan bangkrutnya MF Global sehingga memberikan kekhawatiran ekonomi global melambat. Saham-saham elektronik, komoditas, otomotif, dan eksportir melemah. Ada pula penilaian terhadap pabrik-pabrik besar China yang dinilai melambat pada bulan Oktober akibat melambatnya order baru dan ekspor. Tetapi, perusahaan kecil menunjukkan tanda-tanda kebangkitan dengan kondisi global yang memburuk. Data PMI China Oktober terendah sejak Februari 2009, di 50,4 dibandingkan dengan September 51,2, menurut China Federation of Logistics and Purchasing (CFLP). Penurunan ini bisa saja karena faktor musiman. Pelemahan juga dipicu oleh pernyataan PM Yunani untuk referendum atas paket bailout yang ditawarkan Uni Eropa. Dari Asia Pasifik dirilis laporan ekonomi, yaitu CPI (YoY) KorSel di level 3,9% dari sebelumnya 4,3%; AIG Manufacturing Index Aussie di level 47,4 dari sebelumnya 42,3; House Price Index (QoQ) Aussie di level -1,2% dari sebelumnya -0,5%; Trade Balance KorSel di level US$4,29 miliar dari sebelumnya US$1,6 miliar; dan penurunan suku bunga Aussie di level 4,5% dari sebelumnya 4,75%.
Bursa saham Eropa ditutup melemah yang dipicu rencana Yunani melakukan referendum untuk memperoleh bailout kedua. Saham-saham perbankan anjlok dan investor khawatir krisis Eropa akan semakin memperlambat pertumbuhan ekonomi di negara besar Eropa. Pasar juga terpengaruh perkembangan Credit Suisse yang akan memangkas jumlah karyawan hingga 1.500 orang karena menurunnya kinerja di Q3-11. Sementara bangkrutnya MF Global memberi peringatakan terhadap investor untuk menghindari aset berisiko dan bahaya overexposure ke obligasi Eropa. PM Yunani mengatakan sangat membutuhkan dukungan yang lebih luas untuk melakukan reformasi dan penghematan anggaran namun, sebagian besar rakyat Yunani menentang persyaratan tersebut. Referendum Yunani dinilai jadi masalah baru bagi market karena mementahkan hasil KTT Uni Eropa, Rabu (26/10) yang memberikan harapan penyelesaian krisis. Data ekonomi yang dirilis diantaranya GDP (QoQ) Inggris di level 0,5% dari sebelumnya 0,1%; Manufacturing PMI Inggris di level 47,4 dari sebelumnya 50,8; dan Index of Service Inggris di level 0,4 dari sebelumnya 0,8%.
Bursa kawasan Amerika bergerak melemah yang dipicu sikap pesimisme setelah Yunani berencana refrendum pada skema bailout Uni Eropa. Bila refrendum itu ditolak besar
kemungkinan akan menghasilkan default bagi Yunani sehingga menyebabkan kerugian lebih besar bagi bank dan meningkatkan ancaman risiko sistemik. Data ekonomi yang dirilis diantaranya ISM Manufacturing Index AS di level 50,8 dari sebelumnya 51,6; Construction Spending (MoM) di level 0,2% dari sebelumnya 1,6%; dan Total Vehicle Sales di level 13,3 juta dari sebelumnya 13,1 juta.
Pada perdagangan Rabu (2/11) diperkirakan IHSG akan berada pada support 3.610-3.647 dan resistance 3.756-3.800. IHSG hampir membentuk black marubozu. Posisi candle menjauhi upper bollinger bands. MACD mulai tertahan kenaikannya dengan histogram positif yang memendek. RSI, William's %R, dan Stochastic bergerak turun setelah berada di atas area overbought . Adanya rilis inflasi dan kinerja emiten tampaknya tidak cukup kuat untuk menahan pelemahan saham-saham di BEI. Kemungkinan aksi jual masih akan berlanjut. Namun demikian, bagi sebagian investor mungkin akan ada yang menilai valuasi saham-saham di BEI mulai murah sehingga memanfaatkan pelemahan ini dengan perlahan akumulasi saham-saham pilihan.
(qom/qom)











































