OSK Nusadana: January Effect Masih Terjadi

OSK Nusadana: January Effect Masih Terjadi

- detikFinance
Rabu, 11 Jan 2012 09:37 WIB
Jakarta - The January Effect is still on. Pada perdagangan kemarin IHSG kembali menguat 49 pts dan tutup di level 3,938.8 (+1.28%). IHSG bergerak pada range 3,886-3,941 dengan rata-rata value perdagangan sebesar Rp 5.6 Triliun dan volume sebesar 15 juta lembar. Angka tersebut diatas rata-rata perdagangan pada awal tahun ini dimana rata-rata perdagangan value dan volume tahun ini adalah sebesar Rp 3-4 triliun dan 11 juta lembar. Beberapa saham yang menjadi market leaders untuk hari ini antara lain UNTR, ASII, BMRI, SMGR dan PTBA. Sementara beberapa saham yang masih menjadi market laggers untuk IHSG antara lain adalah BDMN, ISAT, BKSL, dan MNCN. Asing tercatat masih melakukan net Buy sebesar Rp 567Miliar, dengan saham yang paling banyak diburu adalah UNTR dan BMRI. Sementara, bursa Asia juga bergerak mix dengan Nikkei +0.38%, Hang Seng +0.73% dan Kospi +1.46%. Dari China, krisis yang terjadi di Eropa dan Amerika Serikat (AS) mulai melahap perekonomian China. Desember 2011, tingkat pertumbuhan ekspor China melambat akibat lesunya permintaan produk ekspor oleh kedua wilayah besar itu.

Bursa US dan Eropa ditutup menguat semalam dengan Dow +0.56%, FTSE +1.5% dab DAX +2.42%. Dari S&P 500 naik 0,9% menjadi 1.291,96. Kenaikan ini merupakan level tertinggi sejak 29 Juli 2011, atau seminggu sebelum S&P memangkas peringkat kredit AAA Amerika Serikat (AS). Data perbankan di US melaporkan bahwa pinjaman yang disalurkan oleh bank berhasil melompat ke level tertinggi 10 tahun pada November 2011. Jumlah pinjaman yang disalurkan naik US$ 20,4 miliar. Ini merupakan lonjakan terbesar sejak November 2001 ke US$ 2,48 triliun.

Trading Ideas
IHSG diperkirakan akan bergerak di level 3,879-4,003 untuk hari dengan rekomendasi akumulasi Beli saham-saham blue chip jika IHSG kembali tembus ke bawah level 3,900. Saham-saham blue chip diperkirakan masih akan menguat pada perdagangan hari ini menyusul positif nya bursa regional. Saham-saham Perbankan, Astra Group, Property & Infrastructure dan Domestic related masih menjadi favorit untuk di kumpulkan. Saham-saham blue chip seperti BMRI, UNTR, INTP, PTBA, SMGR, dan PGAS masih menjadi favorit. Sementara dari small-mid cap stock, SSIA, ASRI, LPCK, MBSS, WIKA dan MAIN masih dapat di akumulasi beli.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sejak pertengahan Desember, Garuda Indonesia (GIAA) bergerak menguat dari level Rp420 ke titik tertinggi nya di Rp500. Kabar mengenai rencana Cathay Pacific Airways untuk menjajaki peluang membeli 10,88% saham PT Garuda Indonesia Tbk. Sudah dibantah oleh pihak Cathay Pacific. Performance GIAA selama 2011 memang menunjukan perbaikan dibandingkan tahun sebelum nya. Revenue, Occupancy, rute penerbangan, dan pelayanan pelanggan adalah beberapa poin-poin yang meningkat pada tahun 2011 ini. Tapi Secara valuasi GIAA sat ini memang diperdagangkan di harga premium, dengan PER sebesar 31x, jauh diatas rata-rata industri. Berdasarkan PBV, GIAA diperdagangkan diharga market dengan 2.6x. Berdasarkan konsensus di bloomberg, fair value untuk GIAA ada di harga Rp550 lbr.

Bank Victoria (BVIC) meningkat volume perdagangan nya pada 2 hari terakhir (9-10 Jan), dan harga saham nya naik sebesar +10%. Pada 3Q11, emiten mencetak kenaikan laba sebesar +140.7%, dibandingkan periode yang sama sebelum nya.Kenaikan laba bersih tersebut antara lain disebabkan oleh kenaikan Earning before tax perusahaan yang tumbuh 2x lipat dibandingkan 3Q10. Sementara itu BVIC berencana utuk menerbitkan Obligasi sebesar Rp500 Miliar. minimal Rp200 miliar dari hasil penerbitan surat utang itu akan digunakan untuk melunasi sebagian obligasi yang akan jatuh tempo di tahun depan. Adapun untuk subdebt, lanjutnya, akan digunakan untuk mempertahankan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) minimal di level 16%.

Saat ini emiten diperdagangkan di harga yang murah, dengan PER 3.6x dan PBV 0.7x. Level ini masih jauh dibawah rata-rata industri yang sebesar PER 12.6x dan PBV 1.6x.

Special Mention:
ASRI: PT Manungga Prime Development melepas 864 juta (4,8%) saham PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI) senilai Rp372 miliar. Transaksi dilakukan pada 6 Januari 2012. Kisaran harga penjualan mencapai Rp440 per saham. Setelah transaksi itu, kepemilikan saham turunmenjadi 9,41%. TP ASRI masih tetap di Rp 600.

SSIA: PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA), pada 31 Desember 2011 mencatat order book untuk tahun 2012 sebesar 120 hektar dengan harga rata-rata penjualan sebesar US$83 per M2. Upgrade TP to Rp 1,290 dari Rp 1,000.

(ang/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads