Dow Jones Cetak Rekor Lagi, IHSG?

Ellen May - detikFinance
Kamis, 08 Des 2016 09:59 WIB
Foto: Istimewa
Jakarta - Pagi,

Bursa Amerika, Indeks Dow Jones ditutup menguat 1,55% di level 19.549,62 dan kembali berhasil mencetak rekor tertingginya. Penguatan ini dipicu oleh para investor yang mulai menyimpulkan bahwa Donald Trump sebagai Presiden akan baik untuk bisnis dan ekonomi Amerika Serikat. Selain itu, sejak pemilu Amerika Serikat, capital inflow di bursa Amerika bertambah lebih dari US$ 1 triliun.

Namun penguatan bursa Amerika selain karena faktor Trump Effect, juga dipicu faktor-faktor lain seperti GDP 2016 kuartal 3 yang naik 3,2% dan laporan pengangguran di November 2016 yang mencapai titik terendah selama 9 tahun terakhir.

Bursa AS menguat setelah emiten telekomunikasi dan teknologi melesat untuk hari kedua, setelah membayar dividen yang tinggi. Bursa AS juga menguat setelah pelaku pasar memprediksi pertemuan Bank Sentral Eropa pada hari ini akan mempertimbangkan keputusan referendum Italia. Sentimen tersebut dinilai akan mempengaruhi pelonggaran kuantitatif program ECB.

Di Asia, Bursa Jepang, Indeks Nikkei 225 pada perdagangan hari ini dibuka menguat 1% menyusul banteng Amerika. Bagaimana dengan IHSG hari ini?

Hari ini, IHSG berpotensi melanjutkan penguatan dengan testing area 5.300-5.330. Sektor properti dan konstruksi saat ini sudah sangat berada di area support.

Watch saham-saham sektor properti dan konstruksi di area suport seperti ADHI dan ASRI untuk beberapa waktu ke depan.

Efek dari Window Dressing?

Bulan Desember menjadi bulan yang paling dinantikan oleh para trader dan investor, kenapa? Salah satu alasannya ialah karena window dressing ini sering diartikan sebagai kondisi di mana IHSG akan cenderung menguat menjelang penutupan akhir tahun. Benarkah?

Bagaimana dengan fluktuasi minyak mentah?

CMC Markets memprediksi adanya peluang AS untuk menaikkan suplai shale oil untuk mengambil keuntungan dari peningkatan harga minyak. Hal ini tercermin dari laporan terbaru US Energy Information Administration (EIA) yang menaikkan proyeksi produksi minyak AS pada 2016 dan 2017.

Dalam laporannya, EIA menyebutkan rata-rata produksi minyak AS pada 2016 menjadi 8,86 juta barel per hari, dibandingkan riset periode November sebesar 8,84 juta barel per hari. Sementara itu pada 2017, proyeksi dinaikkan menuju 8,78 juta barel per hari dari sebelumnya 8,73 juta barel per hari.

Selain itu, adanya keraguan terkait perjanjian OPEC yang juga akan melibatkan non anggota seperti Rusia. Padahal, OPEC maupun Rusia mencapai rekor produksi tertinggi pada periode November 2016.

Hal tersebut menimbulkan adanya keraguan terhadap kepatuhan pemangkasan produksi antara OPEC dan Rusia. Ada potensi produksi minyak AS akan kembali bangkit.

Salam Profit,

Ellen May (drk/drk)