Beberapa saham yang menjadi penggerak indeks pada perdagangan kemarin di antaranya: BBCA, ASII, TLKM, BMRI, dan BBRI. Sementara itu, pelaku pasar asing kemarin tercatat melakukan aksi jual bersih senilai Rp 223,45 miliar. Adapun nilai tukar rupiah terdepresiasi 0,08% ke level 13.471.
Dari bursa Asia, mayoritas indeks ditutup tekoreksi. Koreksi terdalam dipimpin oleh indeks Nikkei dari bursa Jepang yang turun 0,73% ke level 19.005,77 atau harga penutupan terendah sejak 9 Desember. Pelemahan yang terjadi pada indeks Nikkei seiring dengan kembali menguatnya mata uang yen. Selain itu harga saham Toshiba Corp yang anjlok sebesar 17% menjadi salah satu pemberat indeks. Penurunan tersebut karena lembaga pemeringkat menurunkan peringkat kredit perusahaan yang membuat kekhawatiran investor semakin tinggi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Adapun beberapa data ekonomi AS yang ikut menjadi katalis negatif terhadap perdagangan semalam di antaranya: Neraca perdagangan Jasa AS bulan November tercatat defisit senilai US$ 65,3 miliar lebih tinggi dibandingkan defisit bulan sebelumnya US$ 61,99 miliar. Selain itu data initial jobless claims AS per 17 Oktober tercatat meningkat menjadi 2,1 juta dari sebelumnya 2,03 juta.
Kami perkirakan hari ini IHSG akan bergerak mixed seiring dengan sudah mulai adanya aksi profit taking yang dilakukan oleh investor. Namun IHSG masih memiliki potensi menguat terbatas. Secara teknikal, terbentuknya long white candle pada akhir perdagangan kemarin mengindikasikan potensi penguatan lanjutan, indikator RSI kuat dan histogram MACD positif. Kami perkirakan IHSG akan bergerak di kisaran 5.250-5.356. (wdl/wdl)











































