Sambil bersiap menyambut pagi hari ini, nanti kita akan bahas mengenai pidato Trump dan hal-hal apa saja yang akan dilakukannya terkait hal tersebut.
1. "America First", What's Next ?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebenarnya apa yang dimaksud dengan "America First"?
Pada pidato saat pelantikannya, Trump mengatakan bahwa ia akan menarik Amerika dari pakta perdagangan Trans-Pacific-Partnership (TPP).
Bagaimana efeknya bagi Indonesia?
IHSG pada perdagangan Senin kemarin ditutup turun tipis 0,06% ke level 5.250,97 pada perdagangan hari ini setelah dibuka dengan pelemahan 0,07% di 5.250,64.
Di mana pelemahan ini terjadi akibat aksi pasar yang masih ragu-ragu, menanti rincian dari stimulus kebijakan ekonomi yang dijanjikan Trump.
Sementara itu Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup melemah 27,4 poin atau 0,14% ke 19.799,85. Meski begitu, EIDO justru alami penguatan sekitar 1,24%. Sehingga saya lihat hari ini IHSG kembali berpotensi uji resisten di 5.250-5.300.
Dalam kebijakan eksekutif terbarunya, Presiden Trump menandatangani secara resmi langkah Amerika Serikat untuk keluar dari kesepakatan perdagangan Trans-Pacific Partnership.
Trump juga telah berjanji untuk menegosiasikan kembali Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara (NAFTA) dengan Kanada dan Meksiko. Investor benar-benar mencoba untuk mengukur seperti apa potensi dampak dari pendekatan Trump terhadap perdagangan, ekonomi, pajak dan regulasi.
America First, From America To America
Donald Trump telah resmi dilantik sebagai Presiden Amerika Serikat (AS). Dalam pidato pertamanya Trump menyebutkan slogan 'America First' alias mengutamakan Amerika.
Di mana salah satu unsurnya adalah tentang proteksionisme terhadap barang produksi negara lain.
Kebijakan proteksionisme yang dijanjikan Trump, dinilai cukup bertolak belakang dengan komitmen negara-negara di dunia, di mana perlu menjalin kerja sama untuk memperkuat ekonomi.
Jika kebijakan proteksionisme benar-benar diterapkan, maka akan merugikan Amerika sendiri, karena beberapa industri di Amerika membutuhkan bahan baku dari negara tetangganya.
America First juga berbicara tentang 25 juta lapangan kerja baru dalam 10 tahun ke depan.
Jumlah pengangguran akan ditekan Trump dengan menggenjot sektor industri manufaktur di Amerika.
Karena itu dia memenangkan suara pemilu di wilayah yang menjadi kunci industri manufaktur, seperti Wisconsin, Michigan, dan Pennsylvania.
Apa yang disampaikan Presiden Trump menggambarkan bahwa Trump memberi penekanan besar bahwa kepentingan yang didahulukan adalah kepentingan Amerika sendiri.
Hal itu menunjukkan, bahwa kepentingan Amerika tidak selalu sama dengan kebijakan global. Kondisi pasar baik dalam negeri maupun global sedang dalam proses transisi dan memahami kondisi yang saat ini tengah terjadi.
Headline berita pada weekend kemarin dipenuhi oleh berita mengenai inagurasi Presiden Amerika Donald Trump. Termasuk di dalamnya mengenai kemungkinan negosiasi ulang Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara dan keluar dari kesepakatan Trans-Pacific Partnership (TPP).
Pemerintahan baru Amerika pada Jumat lalu menjelaskan, strategi perdagangan yang akan diterapkan untuk melindungi lapangan kerja bagi warga AS akan dimulai dengan penarikan diri dari TPP dan negosiasi ulang kesepakatan dengan negara yang melanggar kesepakatan perdagangan juga mengancam pekerja Amerika dalam prosesnya.
Sebenarnya, efek dari mundurnya Amerika dari TPP ini akan berdampak buruk bagi para pengeskpor ke Amerika.
Namun, batalnya TPP tak selalu berdampak negatif kepada dunia internasional, termasuk Indonesia. Sebab, tanpa TPP, maka berbagai negara dapat fokus untuk meningkatkan nilai datang pada sektor domestik dan regional. TPP yang oleh Amerika berujung pada pembatalan akan ada beragam reaksi baik dari Amerika sendiri maupun dari negara lain yang berpotensi menghilangkan kontrak dagang. Namun, apabila TPP batal, maka China akan memiliki manfaat dagang lebih besar karena memiliki akses pasar yang lebih luas di Asia. Bagi Indonesia, sebetulnya membuat Indonesia tetap bisa bersaing dengan negara Asia lain di pasar Amerika terutama dalam sektor perikanan.
2. Banyak IPO, Sektor Properti Masih Prospektif
Di sektor properti saat ini, beberapa perusahaan terkenal akan melakukan IPO pada tahun ini, seperti PT Avia Avian, PT Wavin Duta Jaya, dan PT Maspion. Keputusan beberapa perusahaan besar tersebut pada saat ini, bukanlah tanpa alasan. Salah satu faktor penting yang menjadi alasannya ialah momentum. Kegiatan pemerintah yang sedang giat-giatnya menggenjot sektor infrastruktur menjadi faktor utama banyaknya perusahaan untuk melakukan IPO. Karena, dengan semakin banyak infrastruktur yg dibangun, seperti jalan tol, proyek MRT dan fasilitas lainnya, hal tersebut akan membuka peluang untuk pembangunan apartemen dan rumah-rumah baru seiring dengan banyaknya fasilitas yang dibangun oleh pemerintah. Sentimen ini pula yang membuat sektor properti beserta turunannya masih jadi favorit.
Keseriusan pemerintah dengan sejumlah kebijakannya guna mendorong sektor properti yang sudah setengah tertidur selama tiga tahun terakhir ini merupakan salah satu sentimen positif bagi IHSG. Namun, tahun ini BI berpotensi akan menaikkan suku bunganya sebesar 1%. Hal ini bukan hanya akan melemahkan daya beli, kenaikan ini juga akan menekan permintaan properti karena KPR yang lebih mahal dan dapat menghambat rencana pemerintah untuk mendorong laju infrastruktur.
Lalu, apa hubungannya IPO dengan IHSG ya?
Hal pertama yang harus kita ketahui ialah, perusahaan melakukan IPO hanya pada saat ekonomi Indonesia sedang membaik. Alasannya ialah, karena dengan IPO perusahaan ingin mencari dana sebanyak-banyaknya untuk perkembangan bisnis usaha mereka.
Jadi, dengan adanya IPO maka akan memperbanyak jumlah dana dan transaksi yang masuk di pasar modal dan menjadi sentimen positif bagi IHSG. Banyaknya perusahaan-perusahaan besar yang melakukan IPO juga akan menarik minat para trader untuk berinvestasi dengan adanya pilihan saham-saham baru yang masih potensial.
Sementara itu, saham-saham di bidang properti seperti BSDE, LPKR,SSIA dan ASRI masih berpotensi menguat.
Tidak hanya menjanjikan prospek yang bagus, jika dilihat dari polanya, saham-saham tersebut juga masih sangat potensial untuk jangka menengah ke atas.
Beberapa saham sektor properti dan sektor lainnya dalam Monthly Hot List Januari 2017 sudah mulai menghasilkan profit sejak direkomendasikan pada awal bulan Januari lalu.
Salam profit (wdl/wdl)











































