Follow detikFinance
Rabu 08 Mar 2017, 09:42 WIB

Saham Produsen Rokok RI Masih Terus Bertumbuh

Ellen May - detikFinance
Saham Produsen Rokok RI Masih Terus Bertumbuh Foto: Istimewa
Jakarta - Setelah sebelumnya membahas berbagai potensi di komoditas pertambangan, dalam Fundamental Technical Alignment (FTA) hari ini akan dibahas mengenai saham-saham di industri rokok, dengan saham unggulannya yaitu HMSP dan GGRM.

Rokok diketahui sudah menjadi budaya dari nenek moyang Indonesia dari portugis. Rokok yang digunakan sebagai medium relaksasi serta suburnya tanaman tembakau di Indonesia, membuat perkembangan industri rokok Indonesia meningkat tajam.

Belum lama ini, pemerintah berniat untuk kembali menaikkan bea cukai rokok menjadi 9,1%. Lalu, apakah itu akan menjadi sentimen negatif untuk saham di industri rokok? Sambil menghirup udara segar di pagi hari ini, mari kita simak ulasan selengkapnya, hanya di #Kopipagi 8 Maret 2017.

Pada perdagangan kemarin, IHSG mengalami koreksi akibat beberapa sentimen global. Sentimen apa sajakah itu? Yuk, kita intip ulasannya berikut ini.

Pada perdagangan kemarin, IHSG ditutup melemah sebesar 0,13% di level 5,402.61. Penurunan ini tidak lain disebabkan oleh respon para trader terhadap pernyataan The Fed yang mengatakan kemungkinan besar akan menaikkan suku bunganya pada bulan Maret ini. Tidak hanya IHSG, Dow Jones pun juga turut melemah sebesar 0,14% ke level 20,924.76.

Rokok dan budaya Indonesia tidak dapat dipungkiri memiliki hubungan yang erat. Lantas, apakah itu yang menyebabkan industri rokok di Indonesia terus berkembang, bahkan meskipun cukai rokok terus dinaikkan? Saksikan penjelasan selengkapnya berikut ini.

Rokok Dan Kehidupan Warga Indonesia

Berdasarkan survei terakhir, rokok ternyata menempati urutan ketiga untuk barang konsumsi yang paling banyak dibeli masyarakat setiap harinya. Riset menunjukkan bahwa ada 48,4 juta perokok yang rata-rata menghabiskan 12 batang rokok tiap hari. Jika dihitung total pengeluaran masyarakat untuk membeli rokok tiap hari sebesar Rp 580 miliar atau Rp 212 triliun setahunnya.

Lalu, sebenarnya apa sih yang menyebabkan tingkat konsumsi rokok itu begitu tinggi?

Berikut beberapa faktor konsumsi rokok di Indonesia:

- Budaya
Inilah penyebab utama tingginya konsumsi rokok di Indonesia. Banyak anak yang sejak kecil sudah mengenal rokok, baik dari orang tua maupun orang-orang sekitarnya. Banyaknya orang dewasa yang merokok, terutama perokok pria, membuat anak laki-laki yang masih kecil terdoktrin dipikirannya bahwa merokok adalah hal yang biasa bagi orang dewasa. Hal inilah, penyebab utama trend merokok dikalangan remaja.

- Harga rokok Indonesia yang murah
Tobacco Control Support Center Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC – IAKMI) pernah merilis survei Euromonitor International beberapa tahun lalu, di mana menunjukkan harga rokok Indonesia sangat murah. Sebagai contoh, harga rokok premium hanya dikisaran Rp 1.500 per batang, ketiga termurah di ASEAN setelah Kamboja dan Vietnam. Kebijakan cukai yang rendah oleh pemerintah juga merupakan salah satu penyebabnya.

Jika harus memilih antara makan atau merokok, mungkin masyarakat Indonesia akan lebih memilih rokok. Lantaran sifat adiktif pada rokok yang dapat membuat penggunanya merasa hambar ataupun ada sesuatu yang kurang jika tidak merokok.

Hal ini merupakan hal yang negatif bagi kesehatan masyarakat. Namun jika dilihat dari industri rokok, Kebutuhan akan rokok Indonesia yang tinggi merupakan hal utama yang berhasil menjaga pertumbuhan serta eksistensi perusahaan rokok di Indonesia hingga saat ini.

Perubahan PPN Rokok

Belum lama ini, pemerintah telah menaikkan PPN dari 8,7% menjadi 9,1%. Aturan yang diteken Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pada 28 Desember 2016 tersebut sudah berlaku sejak 1 Januari 2017 lalu.

Tujuan utama pemerintah sebenarnya dari menaikkan PPN rokok ini ialah selain untuk menekan konsumsi rokok yang telah menggerogoti kesehatan serta tingkat kemiskinan di Indonesia. Kenaikan PPN ini juga diharapkan akan menaikkan penerimaan pemerintah dari cukai rokok.

Meskipun begitu, cukai rokok di Indonesia masih tergolong sangat rendah di dunia. Dengan kenaikan cukai tersebut, membuat harga rokok Indonesia berada disekitar harga Rp 25.000. Namun, harga ini masih tergolong rendah dibandingkan dengan harga rokok di negara lainnya. Berikut data perbandingannya:

Peringkat/Negara/Harga

1. Australia Rp 251.000
2. Selandia Baru Rp 210.000
3. Norwegia Rp 165.000
4. Inggris Rp 153.000
5. Irlandia Rp 149.000
6. Islandia Rp 146.000
7. Singapura Rp 127.000
8. Kanada Rp 123.000
9. Bahama Rp 118.000
10. Israel Rp 115.000
11. Indonesia Rp 25.000

Meskipun cukai sudah dinaikkan, jika dibandingkan dengan harga rokok di dunia, harga rokok di Indonesia masih tergolong murah. Hal inilah yang menyebabkan kenaikan cukai tersebut tidak terlalu menganggu potensi saham-saham di Industri rokok Indonesia.

Jika dilihat secara fundamental, kenaikan cukai ini otomatis juga mengharuskan produsen untuk menaikkan harga rokoknya juga. Dari segi permintaan rokok di Indonesia, diperkirakan tidak akan mengalami perubahan terlalu besar.

Yang berpengaruh pada perusahaan-perusahaan rokok adalah dari bahan baku rokok itu sendiri yakni tembakau. Hal inilah yang menyebabkan saham-saham seperti HMSP dan GGRM bisa terus membukukan laba bersih setiap tahunnya hingga saat ini.

Salam profit,

Ellen May (ang/ang)


Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed