IHSG Siap Melaju Jika S&P Naikkan Rating RI​

IHSG Siap Melaju Jika S&P Naikkan Rating RI​

ellen may - detikFinance
Senin, 27 Mar 2017 09:18 WIB
IHSG Siap Melaju Jika S&P Naikkan Rating RI​
Foto: Istimewa
Jakarta - Setelah Moody's dan Fitch menaikkan rating investasi Indonesia, sekarang pasar masih menantikan keputusan S&P. Kenapa S&P masih belum juga mengeluarkan keputusannya? Apa yang menyebabkan keterlambatan tersebut? Simak jawabannya, hanya di #Kopipagi hari ini.

Pada penutupan perdagangan Jumat kemarin, IHSG bergerak menguat tipis sebesar 0,06% di level 5,567.13. Penguatan ini, salah satunya didukung oleh besarnya capital inflow yang masuk pada hari itu yang mencapai Rp 1,05 triliun.

Selain itu, terjadinya penundaan terhadap penyelesaian reformasi RUU kesehatan di Amerika juga dapat mendorong capital inflow ke Indonesia. Akibat terjadinya keterlambatan penyelesaian UU tersebut, Dow Jones masih terus melemah -0.29% ke level 20,596.72. Masih sama seperti sebelumnya, EIDO bergerak menguat 0,19% ke level 25,95.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Standard & Poor's atau juga dikenal dengan sebutan (S&P) adalah salah satu anak perusahaan dari McGraw-Hill yang merupakan perusahaan pemeringkat atas saham dan obligasi, yang merupakan salah satu dari 3 perusahaan besar dalam industri pemeringkatan efek bersama Moody's dan Fitch Ratings.

Hingga saat ini, lembaga pemeringkat Standard & Poor (S&P) belum juga memberikan peringkat layak investasi atau investment grade terhadap surat utang pemerintah Indonesia, padahal dua lembaga lainnya seperti Moody's dan Fitch sudah menaikkan rating Indonesia. Berikut ulasannya.

Penyebab Lamanya Penilaian S&P
Kedatangan perwakilan S&P ke Indonesia pada beberapa waktu kemarin, membuka harapan bahwa lembaga pemeringkat internasional tersebut akan segera memberikan investment grade terhadap surat utang Indonesia. Perwakilan S&P itu telah bertemu Menko Perekonomian Darmin Nasution di kantor Kemenko Perekonomian beserta dengan Sri Mulyani.

Dalam pertemuan tersebut, perwakilan S&P banyak bertanya soal fiskal, pajak, belanja negara, deregulasi, dan debirokratisasi. Pemerintah pun berharap agar S&P segera menaikkan peringkat surat utang Indonesia menjadi layak investasi.

Kenapa kenaikan peringkat dari S&P ini sangat ditunggu?
Penilaian S&P sebenarnya tak jauh berbeda dengan yang dicermati Fitch dan Moody's, yakni melihat data makroekonomi dan kondisi fiskal. Kedua pendekatan itu pun sudah direpresentasikan oleh Fitch dan Moody's. Hanya saja, standar yang digunakan S&P memang lebih tinggi.

S&P tidak hanya mengukur indikator makro yang harus bagus, tapi juga mempertimbangkan evaluasi implementasi kebijakan, wawancara penilaian dari pelaku bisnis, birokrat, dan pengamat di Indonesia. S&P juga membandingkan data-data di Indonesia dengan kondisi di negara lain.

Sehingga tidak heran jika peringkat layak investasi dari S&P ini sangat ditunggu karena akan berdampak meningkatkan kepercayaan investor terhadap ekonomi Indonesia.

Berbeda dengan S&P, dua lembaga pemeringkat internasional lainnya, yakni Fitch Ratings dan Moody's Investors Service, sudah sejak 2011 memberikan peringkat investment grade kepada Indonesia. Bahkan pada 21 Desember 2016, Fitch menaikkan outlook peringkat utang Indonesia dari stabil menjadi positif. Fitch juga mempertahankan rating BBB- atau investment grade kepada Indonesia.

Sedangkan Moody's pada 8 Februari 2017 mengumumkan kenaikan outlook peringkat utang pemerintah Indonesia dari stabil menjadi positif. Moody's juga telah mempertahankan peringkat surat utang Indonesia pada tingkat Baa3 atau layak investasi. Moody's tidak menutup kemungkinan kenaikan peringkat utang Indonesia di masa depan jika perbaikannya berlanjut, baik dari sisi kerentanan eksternal dan kelembagaan.

Para pengamat ekonom melihat keterlambatan penilai dari S&P ini dikarenakan mekanisme internal mereka. Lembaga asal New York tersebut terjebak di system yang mereka buat sendiri sehingga mereka terlambat dibanding lembaga pemeringkat lain

Karena itu, para ekonom berpendapat tak ada alasan lagi bagi S&P menunda peringkat layak investasi untuk Indonesia. Penundaan hanya akan menimbulkan kecurigaan bahwa S&P telah salah memberikan penilaian dan juga memunculkan dugaan bahwa S&P punya kepentingan tertentu.

Meskipun masih menunggu kepastian dari S&P, para investor dunia sudah menganggap level Indonesia sudah memasuki level investment grade. Hal itu dibuktikan melalui harga saham Blue Chip yang terus naik, serta IPO, SBN dan global bond yang laku keras. Hal ini pun membuat para trader memborong saham-saham seperti BMRI, ASII dan BBCA. (ang/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads