Follow detikFinance
Senin 03 Apr 2017, 10:40 WIB

Sentimen Terbaru Sektor Minyak Sawit

Ellen May - detikFinance
Sentimen Terbaru Sektor Minyak Sawit Foto: Istimewa
Jakarta - IHSG pada penutupan perdagangan kemarin, ditutup melemah hingga 0,44% di level 5,568.11. Pelemahan ini terbilang wajar, menjelang pergantian akhir bulan serta penutupan perdagangan. Belum lagi IHSG telah menembus rekor baru di 5600, yang berarti IHSG masih berpotensi terus menguat untuk kedepannya. Sementara itu di Amerika, Dow Jones kembali terkoreksi sebesar 0,31% ke level 20,663.22 akibat beberapa sentimen yang sedang terjadi dinegara itu, terutama dari Trump.

Harga minyak kelapa sawit (CPO) menyentuh level terendah baru sepanjang 2017 seiring dengan merosotnya harga minyak kedelai dan proyeksi pemulihan suplai terutama pada semester II.

Pada penutupan perdagangan Bursa Malaysia, harga CPO kontrak Juni 2017 turun 62 poin atau 2,28% menuju 2.659 ringgit (US$601,58) per ton. Ini merupakan level terendah baru sepanjang 2017. Sepanjang tahun berjalan, harga CPO terkoreksi 9,86%. Berikut ulasannya.

Meski Turun, CPO Masih Potensial
Hingga perdagangan terakhir, harga CPO sedang mengalami koreksi sebesar 2,28% di level 2.659 ringgit per ton. Koreksi ini diperkirakan sebagai akibat dari turunnya harga minyak kedelai, serta menurunnya jumlah ekspor CPO dari Malaysia. Sebagai barang subtitusi CPO, penurunan harga minyak kedelai ini membuat permintaan minyak kedelai menjadi meningkat, sehingga menurunkan pamor CPO.

Di sisi lain, harga sawit pun juga tertekan oleh proyeksi meningkatnya suplai CPO global setelah mengalami cuaca kering akibat El Nino. Meskipun pemulihan normal baru akan terjadi pada semester II/2017, pasar sudah mengantisipasi hal tersebut sejak awal.

Sebetulnya, harga CPO sat ini tengah mendapatkan sentimen positif dari Indonesia sebagai produsen dan eksportir terbesar di dunia yang belum lama ini telah menurunkan tarif Bea Keluar (BK).

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, harga referensi produk CPO untuk periode April 2017 dipatok sebesar US$ 762,88 per ton, turun 7,63% dari bulan sebelumnya senilai US$ 825,9 per ton. Adapun bea keluar turun menjadi US$ 3 per ton dari Maret 2017 sebesar US$ 18 per ton. Harga referensi dan bea keluar tersebut berlaku pada tanggal 1-30 April 2017.

Penurunan Bea Keluar ini diharapkan akan memberi peluang untuk kenaikan harga CPO, setidaknya mencapai angka 2.800 ringgit pada akhir semester I ini.

Sementara itu mendekati bulan Ramadan, permintaan CPO diperkirakan akan melonjak signifikan, yang telah ditunjukkan oleh naiknya permintaan impor CPO dari Malaysia. Disamping itu, Malyasia juga berencana bertemu dan menandatangani perjanjian mengenai promosi riset dan penggunaan CPO bagi pasar di India, dan juga di pasar Uni Eropa.

Hasil riset dan promosi tersebut, diharapkan akan dapat meningkatkan kepercayaan serta minat para pelaku pasar asing tersebut untuk lebih memanfaatkan serta menaikkan nilai tambah bagi CPO.

Sentimen-sentimen tersebut, diperkirakan mulai akan menaikkan harga CPO beberapa bulan kedepan. Hal ini tentunya juga berdampak positif terhadap beberapa saham di sektor CPO, terutama AALI, TBLA dan GZCO. (ang/ang)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed