Follow detikFinance
Jumat 05 May 2017, 10:32 WIB

The Fed Pertahankan Suku Bunga, Sektor Properti Masih Mantap​

Ellen May - detikFinance
The Fed Pertahankan Suku Bunga, Sektor Properti Masih Mantap​ Foto: Istimewa
Jakarta - Saham-saham sektor properti merupakan salah satu sektor yang diperkirakan masih akan tumbuh siginifikan tahun 2017. Pasalnya, pemerintah masih menjadikan infrastruktur sebagai prioritas pembangunan tahun depan.

Kenaikan sektor ini sebenarnya dipengaruhi oleh banyak faktor terutama dari dalam dan luar negeri. Salah satu sentimen terhangat saat ini berasal dari Amerika, yang saat ini mempertahankan suku bunganya di level 1,00%.

Hubungan The Fed dan Properti

Hasil pertemuan The Fed di Amerika pada 2-3 Mei lalu, juga memutuskan bahwa suku bunga paman Sam tersebut masih akan dipertahankan di level 1,00%. Keputusan tersebut akibat pertumbuhan ekonomi amerika untuk kuartal I ini yang masih lemah.

Meskipun begitu, The Fed mengatakan bahwa pelemahan tersebut masih bersifat sementara dan masih membuka peluang untuk kenaikan suku bunga sebanyak 2 kali untuk tahun ini.

Nah, seperti yang kita ketahui, keputusan The Fed untuk mempertahankan suku bunganya ini tentunya berdampak positif untuk sektor properti di Indonesia. Ketetapan The Fed untuk tidak merubah level suku bunga tersebut, akan menyebabkan Bank Indonesia (BI) tidak perlu melakukan tindak pencegahan seperti menaikkan tingkat suku bunga 7-Day Repo Rate.

Hal ini tentunya tidak akan mempengaruhi tingkat inflasi, valas dan tingkat kredit, sehingga menyebabkan proses pembelian dan pembangunan properti masih akan terus berlanjut.

Rumah di Bawah Harga Rp 2 Miliar Bebas Pajak

Setelah sempat memberikan keringanan pembangunan dengan membebaskan pajak untuk rumah di bawah harga Rp1 miliar pada 2016 lalu, pemerintah DKI pada bulan ini diperkirakan akan memperluas kebijakan tersebut menjadi hingga Rp2 miliar.

Hal ini berarti, dalam waktu dekat masyarakat dengan harga rumah atau properti kurang dari Rp 2 miliar akan dibebaskan dari PBB. Hal tersebut terutama diakibatkan kenaikan harga lahan di Jakarta yang mencapai 30% per tahun. Hal ini menyebabkan harga lahan-lahan kosong di Jakarta bisa mencapai harga Rp 55 juta per meter.

Kebijakan ini diharapkan akan dapat membantu mengurangi beban, serta meningkatkan jumlah pembangunan lahan dan properti, dengan adanya pembebasan pajak tersebut.

Tidak berubahnya level suku bunga Amerika tadi, dapat memberi pengaruh tersendiri untuk sektor properti ini. Sementara itu, untuk masalah pembebasan PBB rumah di bawah Rp 2 miliar tadi, pemerintah masih belum memutuskan bagaimana regulasinya. Namun kebijakan tersebut diperkirakan akan segera berlaku pada bulan ini.

Melihat pergerakan saham-saham yang tengah mengalami koreksi di bulan Mei ini, ternyata koreksi itu justru dapat Anda manfaatkan untuk membeli saham tersebut di harga bawah, seperti saham SSIA dan PTPP.

Salam profit,
Ellen May (ang/ang)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed