Pelajaran dari Kebangkrutan Lehman: Kelola Utang dengan Baik!

Pelajaran dari Kebangkrutan Lehman: Kelola Utang dengan Baik!

- detikFinance
Kamis, 18 Sep 2008 07:26 WIB
Pelajaran dari Kebangkrutan Lehman: Kelola Utang dengan Baik!
Jakarta - Siapa bakal meramal Lehman Brothers akan bangkrut? Dengan aset ratusan triliun dan sejarah yang sedemikian panjang, Lehman toh akhirnya berakhir bangkrut. Pemerintah harus belajar banyak dari kebangkrutan Lehman Brothers.

Pelajaran yang bisa dipetik adalah, pemerintah harus mengurangi agresifitasnya dalam menerbitkan surat utang untuk menambal defisit. Utang yang terlalu agresif itulah yang menjadi sumber kehancuran berbagai lembaga keuangan internasional.

Hal ini dikatakan oleh Anggota Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Dradjad Hari Wibowo di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (17/9/2008) petang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pemerintah saat ini dinilai sudah terlalu agresif dalam menerbitkan obligasi negara. Dalam kurun waktu empat tahun, diperkirakan penerbitan obligasi negara telah mencapai sekitar 350 triliun rupiah. Dengan kondisi terkini, saya khawatir harga obligasi negara akan ambruk," katanya.

"Lehmann Brothers memiliki aset sekitar Rp 5.500 triliun, berkali-kali lipat dari anggaran negara. Namun ambruk juga akibat strategi pembiayaan dengan utang yang terlalu agresif," imbuhnya.

Berbagai bukti tersebut menunjukkan bahwa strategi pembiayaan dengan berutang secara agresif adalah kebijakan yang sangat berbahaya.

Mengenai bangkrutnya Lehman Brothers, Dradjad khawatir obligasi negara akan ikut terseret dampaknya. Lehman Brothers yang memegang obligasi pemerintah nantinya berpotensi untuk menjual obligasi negara dengan harga murah karena membutuhkan dana segar.

"Apabila obligasi negara djual murah, maka akan menimbulkan tekanan. Penjualan obligasi negara dengan harga murah akan membuat harga obligasi negara menjadi ambruk. Pemerintah akan sulit menerbitkan obligasi negara dan membiayai defisit anggaran. Kemudian akan ada banyak pihak yang berasumsi bahwa pemerintah kesulitan likuiditas. Ini berbahaya," urainya.

Ia menambahkan, pengurangan penerbitan obligasi negara sebesar Rp 15 triliun pada tahun 2008 ini tidak menunjukkan bahwa pemerintah meredam agresivitas. Menurut dia, agar harga obligasi negara menjadi kuat, pemerintah harus mengurangi penerbitan dengan lebih banyak lagi.

"Pengurangan 15 triliun rupiah tidak cukup. Seharusnya, pengurangan mencapai 30 triliun

Pada 2008, dijelaskan Dradjad target penerbitan obligasi negara adalah 158 triliun rupiah. "Besar kemungkinan bahwa pada 2009 jumlah penerbitan obligasi negara tidak jauh dari besaran tersebut," ujarnya. (dnl/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads