Hal tersebut disampaikan Dirjen Pengelolaan Utang Rahmat Waluyanto di kantornya, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Rabu (24/9/2008)
"(Yield) ini kan naiknya sedikit, karena masalah global di AS, kan rencana bail out US$ 700 miliar itu masih berlarut-larut kemudian minyak juga. Pasar di AS juga mempertanyakan, nanti dengan bail out yang sangat besar itu financingnya bagaimana," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk membiayai bail out yang besar itu, pemerintah AS kemungkinan akan mengeluarkan obligasi yang lebih banyak lagi untuk membiayai bail out sebesar US$ 700 miliar.
Yield pemerintah Indonesia tentunya akan terpengaruh bila ada obligasi AS yang jumlahnya besar masuk ke pasar.
Sentimen negatif lain di pasar yang mempengaruhi yield Indonesia adalah pelemahan dolar AS terhadap euro.
Namun pemerintah tidak terlalu mengkhawatirkan kenaikan yield yang biasanya menurunkan harga obligasi di pasar ini. Jika dilihat dari kepemilikan asing atas Surat Utang Negara (SUN) pun tidak terlalu bermasalah.
Kepemilikan asing di SUN belum ada perubahan yang signifikan, SUN kini dipegang oleh investor asing senilai Rp 105 triliun.
"Tanggal 22 September masih sekitar Rp 100 triliun berapa, cuma turun dikit, tanggal 23 September sudah balik ke Rp 105 triliun lagi. Jadi kita enggak khawatir, kalau dilihat dari indikator yang lain, kan kalau nilai rupiah anjlok sekali berarti memang ada asing yang keluar, tapi kan rupiah tidak mengalami depresiasi yang terlalu dalam, stabil, kalau ada pengurangan asing paling-paling kecil," ujarnya.
(ddn/qom)










































