Bail Out AS Belum Jelas, Yield Obligasi RI Naik

Bail Out AS Belum Jelas, Yield Obligasi RI Naik

- detikFinance
Rabu, 24 Sep 2008 11:59 WIB
Bail Out AS Belum Jelas, Yield Obligasi RI Naik
Jakarta - Yield atau tingkat imbal hasil obligasi yang dikeluarkan pemerintah Indonesia terkerek naik 245-369 basis poin. Sentimen negatif dari proses penyelamatan (bail out) yang dilakukan oleh pemerintah AS mengakibatkan kenaikan yield obligasi pemerintah Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Dirjen Pengelolaan Utang Rahmat Waluyanto di kantornya, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Rabu (24/9/2008)

"(Yield) ini kan naiknya sedikit, karena masalah global di AS, kan rencana bail out US$ 700 miliar itu masih berlarut-larut kemudian minyak juga. Pasar di AS juga mempertanyakan, nanti dengan bail out yang sangat besar itu financingnya bagaimana," ujarnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Seperti dikutip Reuters, yield obligasi pemerintah dengan tenor 15 tahun naik 245 basis poin menjadi 12,977 persen. Kenaikan yield tertinggi terjadi pada obligasi yang memiliki jangka waktu paling pendek yakni 1 tahun. Obligasi ini naik 369 basis poin menjadi 11,440 persen.

Untuk membiayai bail out yang besar itu, pemerintah AS kemungkinan akan mengeluarkan obligasi yang lebih banyak lagi untuk membiayai bail out sebesar US$ 700 miliar.

Yield pemerintah Indonesia tentunya akan terpengaruh bila ada obligasi AS yang jumlahnya besar masuk ke pasar.

Sentimen negatif lain di pasar yang mempengaruhi yield Indonesia adalah pelemahan dolar AS terhadap euro.

Namun pemerintah tidak terlalu mengkhawatirkan kenaikan yield yang biasanya menurunkan harga obligasi di pasar ini. Jika dilihat dari kepemilikan asing atas Surat Utang Negara (SUN) pun tidak terlalu bermasalah.

Kepemilikan asing di SUN belum ada perubahan yang signifikan, SUN kini dipegang oleh investor asing senilai Rp 105 triliun.

"Tanggal 22 September masih sekitar Rp 100 triliun berapa, cuma turun dikit, tanggal 23 September sudah balik ke Rp 105 triliun lagi. Jadi kita enggak khawatir, kalau dilihat dari indikator yang lain, kan kalau nilai rupiah anjlok sekali berarti memang ada asing yang keluar, tapi kan rupiah tidak mengalami depresiasi yang terlalu dalam, stabil, kalau ada pengurangan asing paling-paling kecil," ujarnya.

(ddn/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads