Hal ini dikatakan oleh Gubernur BI Boediono dalam jumpa pers usai rapat koordinasi dengan menteri-menteri bidang ekonomi di Graha Sawala Gedung Depkeu, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Minggu (5/10/2008).
"Pengeringan likuiditas global ini kita rasakan sebagai dampak krisis yang terjadi, dimana dulu modal yang keluar dan masuk itu lancar, sekarang sudah mulai terhambat. Kita harus siap menghadapi ini dalam 6 bulan sampai 1 tahun ke depan, dan ini dihadapi oleh setiap negara bukan hanya Indonesia," urai Boediono.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikatakannya, kredit juga bisa pulih apabila capital atau modal yang hilang akibat krisis yang dialami sektor keuangan bisa kembali atau terjadi rekapitalisasi.
"Dan ini bisa terjadi sampai 2 tahun ke depan," tandasnya.
Untuk perlambatan pertumbuhan ekonomi, Boediono mengatakan saat ini sudah mulai nyata terasa. "Ini berpengaruh kepada ekspor kita ini yang perlu kita waspadai," ujarnya.
Boediono mengakui, gonjang-ganjing perekonomian global ini ikut memberi dampak kepada Neraca Pembayaran Indonesia (NPI), baik dari segi neraca berjalan ataupun neraca modal.
"Oleh sebab itu langkah antisipatif yang perlu dilakukan adalah mendorong ekspor dan mengendalikan impor," jelasnya.
(dnl/qom)











































