Demikian disampaikan Gubernur Bank Indonesia Boediono dalam jumpa pers usai rapat koordinasi dengan menteri-menteri bidang ekonomi di Graha Sawala Gedung Depkeu, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Minggu (5/10/2008).
"Yang benar-benar hot sudah keluar, karena mereka sudah kembali. Jadi ini yang sekarang ada di Indonesia yang setengah-setengah (hot). Kita harapkan mereka tahu ekonomi Indonesia masih solid, oleh karena itu mereka mungkin masih betah di sini," ujar Boediono.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terkait kondisi pasar finansial terkini, menurut Boediono seluruh pihak kini harus menanggung beban penyesuaian krena banyaknya perubahan situasi dalam 1 minggu terakhir.
"Kita di dalam harus melakukan penyesuaian yang teratur terhadap situasi yang baru. Ini yang harus ditanggung bersama tidak hanya perbankan dan pemerintah. Penyesuaian yang reasonable dan sustainable berapa," katanya.
Suntikan dana ke sektor perbankan sebagaimana dilakukan oleh sejumlah bank sentral lain, menurut Boediono akan dilakukan sesuai dengan kondisi.
"Injeksi ke perbankan akan disesuaikan dengan kondisi. Kuncinya, yaitu keamanan cadangan devisa dan neraca pembayaran kita. Jadi injeksi kita akan diukur dengan kebutuhan dalam situasi yang baru ini," kata Boediono.
Sementara Deputi Gubernur Senior BI Miranda S Goeltom mengatakan, posisi cadangan devisa Indonesia saat ini masih tetap baik.
"Kadang naik, kadang turun. Kami juga memperhatikan itu sebagai salah satu indikator, jangan sampai cadangan devisa kita berkurang terlalu jauh," katanya.
Miranda mengungkapkan, posisi cadangan devisa Indonesia saat ini masih aman di atas 4,6 kali impor, tanpa merinci angkanya. Berdasarkan data yang dikutip dari situs BI, cadangan devisa Indonesia per akhir Agustus mencapai US$ 58 miliar, turun dari bulan sebelumnya sebesar US$ 60 miliar.
"Secara indikator itu adalah cadangan devisa yang sangat aman, apalagi kita menerapkan acceptable excess, kami lebih melihatnya dari sisi volatilitas," ujarnya.
(dnl/qom)











































