"Perkiraan penurunan laba bersih 2009 dipengaruhi kondisi pasar uang dan pasar saham sebagai dampak dari krisis keuangan AS dan Eropa," kata Direktur Utama Jamsostek, Hotbonar Sinaga di Gedung Garuda, Jakarta, Rabu (8/10/2008).
Kondisi pasar yang terpuruk sudah mulai mempengaruhi proyeksi laba bersih Jamsostek mulai tahun 2008. Menurutnya pencapaiannya hanya akan terealisasi sebesar 98 persen dari target Rp 1,117 triliun, "Tapi masih tetap di atas Rp 1 triliun di tahun 2008," ujarnya.
Â
Ia menjelaskan dalam kondisi seperti sekarang ini, bursa saham dalam negeri ikut terpuruk mengakibatkan Jamsostek harus lebih bersikap lebih bijaksana dalam mengelola dana investasinya.
Â
Ia menjelaskan, dari sekitar Rp 62 triliun dana yang dikelola Jamsostek, dialokasikan sebanyak 46 persen pada obligasi, dan 30 persen deposito, dan 20 persen saham.
Â
Ia memperkirakan akan terjadi "potential loss" akibat terpuruknya harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), namun tidak terlalu signifikan dan tidak berbanding searah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Â
"Risiko penempatan dana di deposito tidak separah di pasar saham seperti saat ini," jelasnya.
Dana deposito yang dimiliki Jmasostek saat ini sebesar Rp 20 triliun, tersebar di sejumlah bank seperti di Bank BRI sekitar Rp 3 triliun, Bank BNI Rp 2,7 triliun, Bank Mandiri kurang dari satu triliun. Selebihnya tersebar di Bank BTN, Bank Ekspor Indonesia, dan sejumlah Bank Pembangunan Daerah (BPD).
Â
"Deposito tetap menjadi primadona, sehingga Jamsostek memutuskan untuk berhenti menambah penempatan dana pada saham. Kondisi seperti sekarang ini lebih aman ditempatkan di deposito," pungkasnya. (ang/ddn)











































