Korban pertama dari krisis kredit di Jepang adalah perusahaan asuransi Yamato Life Insurance. Perusahaan ini utangnya melonjak menjadi US$ 2,7 miliar.
Akibat berita tak sedap ini, indeks Nikkei pada penutupan perdagangan hari Jumat langsung turun lebih dari 10 persen.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nakazono mengatakan perusahaannya sudah berusaha untuk memperbaiki manajemen risikonya. "Tetapi kami memperoleh hasil yang mengecewakan," ujarnya dalam jumpa pers seperti dikutip AFP, Jumat (10/10/2008).
Yamato merupakan perusahaan asuransi pertama yang bangkrut di Jepang dalam 7 tahun terakhir. Saat ini Jepang hanya memiliki 8 perusahaan asuransi sejak Perang Dunia II. Sebelumnya, krisis kredit global telah membangkrutkan perusahaan properti di sektor riil Jepang dan sekarang giliran sektor keuangan yang mengalami.
Perusahaan asuransi kelas menengah ini sudah mengajukan perlindungan pengadilan mengenai kebangkrutannya ke agen jasa keuangan Jepang, Jumat ini.
Perusahaan yang berbasis di Tokyo ini akan mengambil langkah hukum yang diperlukan dan meminta persetujuan pengadilan untuk rehabilitasi.
Akibat adanya perusahaan yang kolaps ini, pemerintah Jepang langsung berupaya meyakinkan investor bahwa kebangkrutan sudah terisolasi dan tidak akan menyebar kemana-mana.
"Kebangkrutan yang dialami Yamato murni karena strategi bisnis dan bukan merefleksikan keseluruhan industri secara penuh," ujar Menkeu Jepang Shoichi Nakagawa.
Namun investor tampaknya belum mempercayai omongan pemerintah, bursa Tokyo langsung bergejolak dan akhirnya ditutup anjlok 10,64 persen.
Perusahaan keuangan Jepang selama ini tergolong aman dari krisis, dan mereka bahkan membeli perusahaan-perusahaan yang terkena krisis di dunia barat.
Mitsubishi UFJ Financial Group Inc, misalnya, mereka membeli 24,9 persen saham bank investasi Morgan Stanley, sedangkan broker papan atas Jepang, Nomura membeli perusahaan Lehman Brothers di Asia, Timur Tengah dan Eropa.
Perusahaan Jepang lebih sehat ketika krisis subprime mortgage di AS terjadi karena mereka lebih berhati-hati untuk melakukan investasi di aset kredit yang kini menjadi sumber dari krisis keuangan global. (ddn/ir)











































