Hal tersebut diungkapkan Kepala Ekonom BNI Tony Prasentiantono di sela-sela Seminar Ketahanan Energi, Sektor Keuangan dan Alternatif Pendanaan di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (23/10/2008).
"Kredit perbankan terhadap sektor migas masih relatif kecil, mengingat tingkat risikonya menurut perbankan nasional masih tinggi, terutama pada masa eksplorasinya," ujarnya.
Selain itu juga menurutnya industri ini memerlukan modal yang sangat besar dengan return yang cukup lama.
Ia mengatakan, banyaknya pelaku asing juga memicu rendahnya penyaluran kredit di sektor ini, karena umumnya mereka tidak membutuhkan kredit dari dalam negeri atau telah memiliki sumber pendanaan sendiri.
Sejak tahun 2005, share kredit migas BNI terus meningkat. Walau NPL terlihat cenderung meningkat tetapi secara umum kualitas kredit migas BNI baik dengan NPL hanya 0,11 persen posisi Juni 2008.
Ia melanjutkan, kinerja kredit perbankan nasional di sektor ini secara umum baik. Sejak 2006, NPL sektor ini cenderung membaik dari sebelumnya 14,7 persen menjadi 7,8 persen dan terus menurun mencapai 3,1 persen pada mei 2008. Angka ini sedikit di bawah NPL rata-rata perbankan yang berada pada posisi 3,76 persen.
Selain itu, pemberian kredit ke sektor ini menunjukkan tren yang terus meningkat dan NPL menurun. Per Mei 2008 kredit di sektor ini telah mencapai Rp 27,628 triliun dengan NPL Rp 850 miliar.
"Minat investor terhadap migas Indonesia memang agak menurun tetapi cukup besar. Minat terbesar adalah di Indonesia Timur yang memang potensinya lebih besar seperti Maluku dan Papua," ungkapnya.
Ia memprediksikan, untuk jangka waktu tiga tahun mendatang minat investor migas di Indonesia masih didominasi kombinasi antara minyak dan gas karena biasanya ladang minyak dan gas terletak di lokasi yang sama atau berdekatan. (ang/ir)










































