Kenaikan tersebut didorong oleh pertumbuhan pendapatan bunga bersih sebesar 16% dari Rp 872,6 miliar pada periode yang sama tahun lalu menjadi lebih dari Rp 1 triliun, serta kenaikan fee based income sebesar 13% dari Rp 247,4 miliar menjadi Rp 279,5 miliar.
"Situasi keuangan dunia yang kurang kondusif merupakan tantangan yang harus dihadapi dengan penuh kehati-hatian. Namun berkat dukungan seluruh stakeholders, terutama nasabah dan OCBC Bank Singapore sebagai pemegang saham mayoritas (74,73%), kami tetap dapat meningkatkan kinerja keuangan sesuai dengan target yang telah ditetapkan," ujar Direktur Utama NISP Pramukti Surjaudaja dalam siaran pers, Kamis (23/10/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari sisi penyaluran kredit, Bank NISP berhasil membukukan kenaikan 16% dari Rp 18,2 triliun menjadi Rp 21,1 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Dilihat dari jenis penggunaannya, sebagian besar kredit disalurkan untuk modal kerja (44,8%), konsumer (29,3%) dan investasi (25,9%).
Sedangkan berdasarkan sektor usahanya, kredit tersebut disalurkan masing-masing ke sektor perindustrian (24,1%), perdagangan (23,5%), jasa (17,9%), konsumer (29,3%) dan lain-lain (5,2%).
Sementara dari sisi total dana pihak ketiga, Bank NISP membukukan kenaikan 11% dari Rp 20,0 triliun menjadi Rp 22,2 triliun.
"Bank NISP juga tetap menjalankan prinsip kehati-hatian dalam menyalurkan kredit sehingga rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) tetap terjaga pada level yang rendah," ujarnya.
NPL (net) per akhir September 2008 sebesar 1,69%, rasio-rasio keuangan utama lainnya, yakni rasio kecukupan modal (CAR/Capital Adequacy Ratio) 17,00%, Net Interest Margin (NIM) 5,46%, Return On Equity (ROE) 8,85% dan Return On Asset (ROA) 1,53%.
Demikian pula dengan rasio pinjaman terhadap dana pihak ketiga (LDR/Loan to Deposit Ratio) sebesar 94,87%. Sedangkan aset Bank NISP per 30 September 2008 tumbuh 9% menjadi Rp 29,7 triliun dari Rp 27,3 triliun. (ddn/ir)











































