Penegasan tersebut disampaikan Deputi Gubernur BI Hartadi A. Sarwono disela-sela rapat panitia anggaran DPR dengan pemerintah, di Gedung DPR, Senayan, Rabu malam (29/10/2008).
Menurut Hartadi, angka cadangan devisa itu sesuai dengan kebutuhan yang harus dipenuhi dalam proses neraca pembayaran saat ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
rupiah juga ada. Juga untuk bayar 4,5 bulan impor yang tinggi, masih sehat, batasnya
3 bulan. Sekarang impor kan sekarang sudah turun, jadi BI lebih punya ruang," katanya.
Berdasarkan data BI, cadangan devisa per akhir September mencapai US$ 57,108 miliar. BI belum merilis angka terbaru, namun kabarnya cadangan devisa sudah turun ke US$ 52 miliar.
Hartadi juga menegaskan, jika memang membutuhkan tambahan, maka Indonesia bisa memanfaatkan fasilitas bilateral swap agreement (BSA) dengan tiga negara yaitu Jepang, Korea dan China sebesar US$ 12 miliar yang hingga kini belum pernah digunakan oleh BI.
BSA merupakan perjanjian sebuah negara terkait komitmen sebuah negara dalam memenuhi kebutuhan mata uang termasuk dolar AS.
"Nah dalam paket kemarin diingatkan kepada pasar bahwa kita punya amunisi. Apabila
diperlukan bisa kita gunakan. jumlah totalnya US$ 12 miliar dari 3 negara yaitu
Jepang US$ 6 miliar, China US$ 4 miliar, Korea US$ 2 miliar," kata Hartadi.
"Itu hanya kalau sewaktu-waktu itu kalau dibutuhkan, diperbaharui 2 tahun sekali,
belum pernah dipakai. Ini fasilitas ada di situ terus tidak pernah kita pergunakan,"
tambahnya.
(hen/qom)











































