Hal tersebut disampaikan Dirut BRI Sofyan Basir di Gedung BRI I, Jalan Sudirman, Jakarta, Jumat (31/10/2008).
"Indover sekarang dalam proses penyelamatan dan mencari solusi dengan BI (Bank Indonesia) dan dalam proses di DPR, kalau sudah selesai nanti diumumkan, tapi sampai akhir tahun mudah-mudahan bisa kita selesaikan bersama-sama," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, untuk mengantisipasi krisis keuangan global, BRI akan mewaspadai pemberian kredit kepada sektor-sektor yang mengalami gangguan ekspor karena lesunya ekonomi global.
"Untuk industri akan kita pelajari terutama yang ekspornya mengalami gangguan itu kita waspadai, kita juga carikan orientasi pasar ekspor baru," ujarnya.
Pergolakan nilai tukar rupiah yang selama sebulan terakhir ini terjadi juga relatif tidak terlalu berpengaruh ke BRI.
"BRI tidak mengalami lompatan besar, lagipula depositonya yang ada tidak terlalu besar, jumlahnya sedikit sekali, itu di bawah Rp 10 triliun. Sehingga tidak ada goncangan terhaadp biaya dana atau cost of fund kita," ujarnya.
Beralih ke suku bunga, BRI sudah menaikkan suku bunga sejak September lalu sekitar 2-3 persen. Dalam kondisi sekarang ini BRI lebih berhati-hati untuk menaikkan kenaikan suku bunga tidak akan sepenuhinya dibebankan kepada debitor.
"Kalau ada kenaikan 3 persen misalnya akan kita bagi 1,5 persen kita, 1,5 persen debitor," ujarnya.
Saat ini rata- rata bunga kredit antara 13-14 persen. BRI juga akan lebih selektif lagi dalam memberikan kredit konsumsi yang sati ini suku bunganya mencapai 16 persen .
(ddn/qom)











































