Porsi Asing di SUN Belum Goyah

Porsi Asing di SUN Belum Goyah

- detikFinance
Rabu, 12 Nov 2008 16:40 WIB
Porsi Asing di SUN Belum Goyah
Jakarta - Posisi kepemilikan asing pada SUN (Surat Utang Negara) belum banyak berubah di tengah krisis finansial global. Padahal krisis itu telah menyebabkan dana-dana asing keluar dari emerging markets.

Menurut catatan Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang, pada 11 November 2008 posisi kepemilikan asing di SUN sebesar Rp 90,7 triliun naik tipis dari posisi 10 November 2008 yang sebesar Rp 90,6 triliun.

Demikian Direktur Surat Berharga Negara (SBN) Bhimantara Widyajala dalam jumpa pers di kantornya, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Rabu (12/11/2008).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Posisi kepemilikan asing di SUN sampai 11 November 2008 masih bertahan di kisaran Rp 90 triliun. Memang ada penurunan jika dibanding posisi akhir September 2008 yang sebesar Rp 105,49 triliun. Asing mayoritas masih memegang yang jangka panjang yaitu sebesar 67%, memang ada penurunan tapi gradual," paparnya.

Namun Bhima mengatakan pelepasan SUN oleh asing ini ada sisi positifnya yaitu lembaga asuransi dan dana pensiun banyak yang menampung SUN yang dilepas oleh asing.

Hal ini terlihat dari total kepemilikan SUN oleh lembaga asuransi pada 11 November 2008 yang sebesar Rp 54,63 triliun naik dari posisi akhir September 2008 yang sebesar Rp 53,09 triliun.

Kemudian kepemilikan SUN oleh dana pensiun pada 11 November 2008 sebesar Rp 32,76 triliun, naik dari posisi akhir September 2008 yang sebesar Rp 30,4 triliun.

Selain itu, Bhima mengatakan lelang buy back SUN yang telah dilakukan pemerintah sebanyak 2 kali di tahun ini berdampak positif kepada penurunan yield (imbal hasil) SUN.

"Setelah 2 kali buy back ada perkembangan positif bahwa yield semakin normal. Sekarang level-nya di sekitar 15%, sebelumnya bisa sampai 20%. Jadi ada penurunan yang positif," katanya.

Bhima menuturkan, harga SUN memang sempat jatuh paling dalam pada tanggal 24-27 Oktober 2008, kejatuhannya sampai 678-976 bps. "Ini terjadi karena adanya kekhawatiran mengenai adanya resesi global akibat krisis. Tapi saat ini sudah mulai membaik," katanya. (dnl/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads