Global Bond Dipangkas Hingga Setengahnya

Global Bond Dipangkas Hingga Setengahnya

- detikFinance
Selasa, 25 Nov 2008 11:52 WIB
Global Bond Dipangkas Hingga Setengahnya
Jakarta - Pemerintah tahun depan akan mengurangi penerbitan obligasi internasionalnya hingga 50 persen dari tahun ini. Berkurangnya permintaan menjadi salah satu penyebabnya.

Hal tersebut disampaikan Dirjen Pengelolaan Utang Rahmat Waluyanto usai penandatanganan perjanjian pinjaman dengan AFD di Graha Sawala, Depkeu, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Selasa (25/11/2008).

"Tahun ini kita terbitkan obligasi internasional sekitar US$ 4,2 miliar, tahun depan mungkin dikurangi lebih dari sekitar 50 persen," ujarnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Krisis keuangan global yang masih mendera di tahun depan membuat pemerintah mengurangi penerbitan obligasi globalnya.

Namun jumlah yang diterbitkan mengecil, permintaan investor asing untuk membeli obligasi valas milik pemerintah masih cukup ada.

"Tahun depan pemerintah masih akan mengagendakan penerbitan SBN valas kita lihat masih ada demand, meskipun itu kecil," ujarnya.

Metode penerbitan obligasi valas akan digunakan dengan berbagai metode, misalnya private placement.

"Kalau ada investor yang masih tertarik dia masih bisa mengajukan permintaan kepada pemerintah untuk membeli SBN, karena SBN Indonesia masih dinilai menarik, karena dari sisi risiko default-nya kita punya track record yang bagus," ujarnya.

Rahmat menuturkan pada tahun depan, target pembiayaan negara melalui penerbitan obligasi secara keseluruhan pada tahun depan lebih rendah.

Tahun depan, jumlah seluruh obligasi yang diterbitkan pemerintah akan lebih rendah 30 persen dari yang ditargetkan tahun ini.

"30 persen lebih rendah dari yang ditargetkan tahun ini, maupun tahun sebelumnya," ujarnya.

Lebih rendahnya jumlah obligasi yang diterbitkan terjadi karena ketatnya likuiditas pasar di tahun depan akibat masih terjadinya krisis.

Tahun depan pemerintah akan menerbitkan obligasi secara gross sebesar Rp 100 triliun dari sebelumnya Rp 150 triliun. (ddn/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads