Demikian disampaikan pakar properti Panangian Simanungkalit usai menghadiri seminar nasional 'Atasi Dampak Krisis Keuangan Dengan Wealth Management' di Hotel Shangrilla, Jakarta, Rabu (3/12).
Namun penurunan tersebut dinilai belum memadai karena seharusnya KPR turun hingga menjadi satu digit saja.
"(12%) pun ini nggak bagus, karena seharusnya kembali ke 9%. KPR ini harus single digit karena dia ditujukan untuk perumahan yang berkaitan dengan kesejahteraan rakyat," ungkapnya.
Panangian menambahkan kapitalisasi properti ditahun 2009 juga akan mengalami penurunan. Jika pada 2007 kapitalisasi di sektor properti mencapai Rp 83 triliun, maka di 2008 turun menjadi Rp 76 triliun. Jumlah ini kembali turun di 2009 menjadi Rp 70 trilyun.
"Pemicunya suku bunga yang tinggi," jelasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, ia juga meminta pemerintah untuk memberikan perlakuan khusus pada Bank Tabungan Negara sebagai bank perumahaan di Indonesia.
"Kalau di Thailand itu ada goverment housing bank yang tidak mengikuti standar bank internasional," ujarnya.
Goverment housing bank ini, lanjut panangian, beroperasi langsung di bawah pengawasan Menteri Keuangan Thailand. Perlakuan khusus yang diberikan antara lain untuk terkait rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR).
"CAR untuk bank-bank umum, karena basisnya kredit finance yang beresiko tinggi sehingga CAR-nya bisa sampai 12, kalau housing bank CAR-nya cuma 4. Kalau di Indonesiakan, BTN bisa dapat perlakukan yang sama," katanya. (lih/lih)











































