"Selanjutnya pada angka sekitar US$ 300 juta. Artinya, rata-rata US$ 300 juta per bulan. 30 persen ekspor ke amerika 30 persen, lainnya ke Jepang, Middle East dan China," ujar Direktur treasury dan internasional BNI, Bien Subiantoro kepada wartawan di Gedung BNI, Jakarta, Rabu (10/12/2008)
Dengan ada tambahan bilateral loan senilai US$ 100 juta dari Wachovia Bank, Bien berharap transaksi ekspor pada bulan ini akan meningkat. "Kalau ada tambahan US$ 50 juta (tahap awal) logikanya jadi US$ 350 juta kan," ungkapnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Policy kita sejak awal tahun karena kita tahu bahwa ini krisis hanya kita mem-finance yg terkait dengan trade finance valas itu. Sehingga kalau banyak kredit valas yang sifatnya investasi atau modal kerja khususnya yang perusahan yang tidak punyai underlying cash flow valas, kita terpaksa tidak bisa kasih," katanya.
Ia menjelaskan, hingga saat ini total fasilitas perbankan yang telah dimiliki US$ 700 juta untuk memfasilitasi trade finance dan working capital.
"US$ 700 juta itu dari bank koresponden, seperti Wachovia US$ 100 juta dan Standard Chartered US$ 150 juta," jelasnya.
Untuk kredit valas, Bien memprediksi tahun depan akan meningkat khususnya untuk mempertahankan ekspor. Karenanya, BNI akan terus mencari rekanan yang bisa memperkuat pendanaan valas, termasuk dengan Wachovia yang dilakukannya pada hari ini.
"Rupiah menguat kemarin, kalau perbankan semua bersama-sama sediakan funding dollar makin banyak maka rupiah akan semakin kuat lagi. Untuk itu, Kita harus mencari bank seperti wachovia yang bilang ekonomi indonesia masih strong," ungkapnya.
Bien mengungkapkan, BNI saat ini juga tengah menjajaki negosiasi dengan bank-bank lain untuk mencari pinjaman. "Kita belum bisa sampaikan karena ada beberapa bank sedang dalam proses tapi cost of fund-nya masih mahal," pungkasnya.
(qom/ir)











































