"Sebab daya beli masyarakat tidak segera pulih dan dampak permintaan tidak akan pulih dengan cepat sehingga mengganggu ekspor dan menyebabkan kredit berorientasi ekspor akan lemah," kata Ekonom BNI, Ryan Kiryanto usai Seminar Indonesia Economic Outlook 2009 dalam Ulang tahun ke 50, Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia di Gedung LPPI, Jalan Kemang Raya, Jakarta, Kamis (18/12/2008)..
Faktor lainnya, lanjut Ryan, karena penyaluran kredit di 2008 ini justru terlalu ngebut. "Tadi Pak Muliaman bilang pertumbuhan kredit kurang lebih 30 persen, itu spektakuler sekali. Kita sudah terlanjur ngebut di 2008 makanya angka kredit dalam dua bulan terakhir menurun," jelasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Ryan, Keppres itu sulit di eksekusi oleh departemen-departemen. "Aturan itu terlalu rigid makanya jarang orang mau jadi pimpinan proyek."
Ryan menambahkan jika revisi Keppres tersebut bisa dipercepat selesai pada Februari maka pada triwulan 3-2009 likuiditas akan makin longgar. "Sebab menteri-menteri akan lebih berani menyalurkan dana dalam bentuk proyek," ujarnya.
Ryan menambahkan, di tahun depan yang akan menjadi pendorong perekonomian Indonesia yaitu infrastruktur dan pendidikan di 2009. "Depdiknas pegang Rp 244 triliun dan itu harus habis di 2009 dengan penyediaan buku dan renovasi sekolah," jelasnya.
Sementara Deouti Gubernur BI Muliaman Hadad mengakui pelemahan pertumbuhan kredit sudah terjadi dalam dua bulan terakhir. "Tapi di tahun 2009 kalau pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 4,9%-5% maka pertumbuhan kredit diprediksi 15-10%," katanya.
Untuk tahun ini, pertumbuhan kredit year on year sebesar 37%. Terdiri dari kredit investasi yang pertumbuhannya paling tinggi 42,9%, diikuti kredit modal 39% dan kredit konsumsi 33%.
(epi/ir)











































