Hal ini disampaikan Menteri Koperasi UKM Suryadharma Ali dalam Evaluasi Program 2008 dan Rencana Program 2009 Kementerian Koperasi dan UKM, di Gedung Departemen Koperasi dan UKM, Jalan HR. Rasuna Said, Jakarta, Rabu (7/1/2009).
Suryadharma memaparkan hingga 31 Desember 2008, realisasi KUR yang sudah disalurkan yaitu sebesar Rp 12,4561 triliun untuk 1.656.544 debitur.
"Atau rata-rata kredit per debitur Rp 7,52 juta," jelasnya.
Posisi BRI sebagai penyalur KUR terbanyak diikuti oleh Bank Negara Indonesia dengan penyaluran KUR sebesar Rp 1.16 triliun dan Bank Mandiri sebesar Rp 1,14 triliun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Suryadharma menambahkan untuk penyaluran kredit dari perbankan melalui linkage program (non KUR) sepanjang tahun 2008 mencapai 9,79 milyar.
Sementara itu, Deputi VI Bidang Pengembangan dan Restrukturisasi Usaha Kemenkop dan UKM Chairul Jamhari menerangkan, untuk tahun 2009 plafon KUR akan bertambah Rp 20 triliun.
"Apabila asumsi rata-rata setiap debitur menerima KUR sebesar Rp 7,5 juta per debitur maka diperkirakan pada tahun 2009 akan terjadi penambahan sebanyak 2,6 juta unit," paparnya.
Bunga KUR
Terkait penurunan BI Rate sebesar 50 basis poin dari 9,25% menjadi 8,75%, Suryadharma menambahkan, penurunan ini bisa juga mendorong bunga KUR ikut turun dari saat ini yang maksimum 16%.
"Penurunan BI Rate itu berpotensi terhadap penurunan suku bunga maksimum KUR itu sendiri. Namun apa akan diturunkan atau tetap disitu? Itu akan dilakukan bersama komite kebijakan nantinya. Tapi memang kita berharap itu bisa diturunkan," jelas Suryadharma.
Namun Suryadharma mengingatkan saat terjadi kenaikan BI Rate, suku bunga KUR tidak mengalami kenaikan.
"Memang angka 16 persen itu angka maksimum dan setahu saya sampai dengan hari ini angka 16 persen belum ada yang menggunakan secara maksimal. Mereka ada yang menggunakan 14 dan ada 15 persen," katanya.
(epi/lih)











































