Menperin: Perbankan Tak Bisa Lagi Jadi Partner Pengusaha

Menperin: Perbankan Tak Bisa Lagi Jadi Partner Pengusaha

- detikFinance
Selasa, 24 Feb 2009 13:11 WIB
Menperin: Perbankan Tak Bisa Lagi Jadi Partner Pengusaha
Jakarta - Target pertumbuhan kredit 2009 yang semakin menciut hingga ke angka kisaran 15,6% membuat sektor industri manufaktur semakin ketar-ketir. Padahal pada tahun 2008 lalu realisasi pertumbuhan kredit masih menembus diangka 31%.

Selama ini sektor Industri cukup terbantu dengan adanya pinjaman modal dari perbankan, sehingga dengan turunnya target pertumbuhan kredit sudah dipastikan perbankan akan semakin memperketat mengucurkan pinjaman.

"Sistem yang demikian merupakan sinyalemen bahwa sektor perbankan Indonesia tidak bisa lagi, dalam kondisi krisis ini menjadi partner dari pengusaha, yang saat krisis ini juga berusaha mengembangan usahanya," kata Menteri Perindustrian Fahmi Idris saat ditemui di kantornya Departemen Perindustrian, Selasa (24/2/2009).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meskipun menurut Fahmi, dalam kondisi ini cukup lumrah jika perbankanmengalokasikan pinjamannya secara konservatif. Sehingga kata dia, ketika terjadi dinamika baru maka ada perkembangan baru yang akan menentukan penetapan target kredit selanjutnya.

"Saya berharap penurunan ini tidak berlangsung satu tahun, sehingga pertumbuhan itu harus melihat dinamika, itukan baru perkiraan," ujar pria berkacamata bulat ini.

Selain itu ia mengharapkan penurunan kredit tidak terjadi pada sektor yag menopang pertumbuhan ekspor, jika ini terjadi akan berdampak negatif bagi sektor-sektor tersebut seperti alas kaki, tekstil dan lain-lain.

Fahmi menjelaskan meski ditengah krisis saat ini sektor Industri perlu mendapatkan dukungan modal perbankan, karena untuk mempertahankan pasar setidaknya masih memerlukan perangkat modal yang cukup besar.

Ia mencontohkan untuk industri makanan dan minuman yang selama ini 80% produknya diserap di dalam negeri, harus tetap mendapat kucuran modal sebab jika industri ini menurun maka akan terjadinya kekosongan pasar yang berujung masuk produk impor.

"Jadi untuk produk dan industri demikian kita harus menjaga eksistensi agar terjaga pasar dalam negeri tidak diserbu barang impor," serunya.




(hen/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads