Bank Mandiri Selektif Kucurkan Pinjaman Valas

Bank Mandiri Selektif Kucurkan Pinjaman Valas

- detikFinance
Rabu, 25 Feb 2009 14:11 WIB
Bank Mandiri Selektif Kucurkan Pinjaman Valas
Jakarta - Bank Mandiri tetap menyalurkan pinjaman valas agar rasio dana terhadap kredit (LDR) valas tetap terjaga di level 70%-80%. Namun untuk pemberian kredit valas ini Mandiri akan lebih selektif memilih perusahaannya.

"Kita jaga, kita akan maintain kalau bisa LDR dalam valas skitar 70-80 persen, kita akan jaga dan itu spesifik kepada perusahaan-perusahaan yang menghasilkan valas," kata Direktur Bank Mandiri Abdul Rachman.

Hal itu diungkapkan Abdul di acara BUMN Executive Breakfast Meeting "Economic Outlook 2009" di Wisma Antara, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Rabu (25/2/2009).    

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mandiri kata Abdul, saat ini memiliki dana valas yang berlebih dibandingkan pinjaman yang diberikan dalam bentuk valas. LDR valas Mandiri saat ini sudah mencapai 80 persen.

Untuk perusahaan yang kesulitan membayar pinjaman valas, Mandiri juga telah menawarkan penjadwalan ulang (reschedule) yang kebanyakan terkait dengan ekspor. Namun itu hanya berlaku untuk prinsipal (pokok) sedangkan pembayaran bunga tetap seperti biasa.

"Kita amati memang dari jumlah L/C yang masuk menurun kemudian order-order mereka menurun, untuk itu kita lakukan prinsipal payment-nya. Kita geser sementara perpanjangan sekitar 1 tahun mereka tidak bayar prinsipalnya. Tapi satu dan lain berbeda terkait sektornya tapi di-average seperti itu. Umumnya ekspor seperti industri sepatu, kayu, tekstil," jelas Abdul.

Mandiri juga belum akan menerbitkan obligasi valas yang dulu sempat direncanakan menerbitkan obligasi sub debt US$ 300 juta. "Posisi valas kita cukup likuid. Justru malah likuiditas valas kita lebih tinggi dari kebutuhan kita, jadi belum," ujarnya.

Abdul juga menjelaskan, sepanjang tahun 2008 perseroan masih membukukan laba kurs meski rupiah sempat berfluktuasi sejak September 2008.

Mandiri terhindar dari rugi kurs karena di bulan September 2008, perseroan sudah melakukan antisipasi dengan meminta beberapa perusahaan untuk mengkonversi kredit valasnya menjadi kredit rupiah.

"Kalau mereka masih punya dana kami minta mereka melunasi. Lalu kita berikan kredit dalam bentuk rupiah.  Makanya di laporan September kita sudah cukup baik. Jadi kredit valas kita sekitar U$$ 3,2 miliar tapi dana kita US$ 4,1 miliar," jelasnya. Abdul juga menjelaskan, transaksi derivatif di Bank Mandiri tidak ada yang mengalami default. Bank Mandiri juga menerapkan pola hati-hati dalam transaksi derivatifnya.

"Kita pelajari kalau seandainya kita punya hubungan misalnya kredit sindikasi atau satu perusahaan dapat kredit dari beberapa bank. Di bank sana menyatakan default, biasanya kita punya perjanjian close default, kita punya hak untuk mendefaultkan. Tapi itu haknya bank, kalau bank lain men-defaultkan kebetulan misalnya itu kecil dan dia menuntut ada pembayaran lebih dulu, itu relatif  kecil dan tidak berpengaruh pada perusahaan itu, mungkin bank lain nggak mendefaultkan. Itu haknya bank. Tapi kalau defaultnya akan berpengaruh kepada keuangan perusahaan itu mungkin bank-bank lain juga akan mendefaultkan," paparnya. (ir/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads