Demikian dikatakan Dirut ALIF Herbudhi S Tomo disela-sela acara WIEF, di Hotel Ritz Carlton, Pacific Place, Jakarta, Selasa (3/3/2009).
"Rights issue tetap dilaksanakan, selain minta pendanaan ICD Rp 500 miliar untuk memperkuat permodalan yang sekarang cuma Rp 105 miliar," kata Herbudhi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Herbudhi, ALIF meminta pendanaan dari ICD karena Dubai, Bahrain, Kuwait belum bisa karena lagi terkena krisis.
"Untuk ICD dan investor Saudi masih ekspansi, makanya kita mengajukan proposal untuk ICD sebagai share holder ataupun memberikan line financing," katanya.
Sementara untuk pelaksanaan rencana rights issue menurut Herbudhi sulit dilakukan tahun ini karena pasar sedang gonjang-ganjing.
"Jadi cara lain untuk memperkuat pembiayaan line dengan bank-bank lokal, dari Muamalat dapat Rp 80 miliar, dan tiga bank lokal satu banknya sebesar Rp 50 miliar," katanya.
Pembiayaan kerjasama dengan ICD ini untuk membiayai eksplorasi geothermal di Sulawesi Utara dengan nilai proyeknya US$ 15-20 juta. Untuk pembiayaan geothermal ini porsi pembiayaan ALIF cuma US$ 8 juta.
Sedangkan kerja sama yang telah dilakukan dengan ILIC untuk membiayai Indonesia Air Transport dan Trigana. Sementara untuk pembiayaan power plant di Lampung bersama tiga bank diantaranya BNI dan Bank Permata dan satu bank dari Malaysia dengan dana senilai Rp 200-220 miliar.
Herbudhi juga menjelaskan perusahaan akan melakukan spreading risiko, karena perlambatan ekonomi dan risiko korporasi meningkat.
"Maka kita memperbanyak ke sektor ritel, tapi dampak krisis di kita tidak sehebat di Malaysia dan Singapura," katanya.
(ir/qom)











































