Hal ini dikatakan oleh Anggota Komisi XI DPR Dradjad Wibowo ketika ditemui di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (3/3/2009).
"Sekarang makin berat untuk BI menurunkan suku bunga karena selain rupiah sudah drop dan bencmark berubah dengan adanya penerbitan GMTN dengan yield yang sedemikian mahal lebih mahal 275 bps dibanding Filipina itu membuat benchmark baru dan akibatnya membuat bank akan sulit untuk menurunkan suku bunga," tuturnya.
Dradjad mengatakan serendah apapun BI Rate diturunkan, perbankan masih akan sulit menurunkan suku bunga simpanannya, karena ada kekhawatiran dana berpindah ke instrumen obligasi pemerintah.
"Jadi walaupun BI Rate diturunkan 5% sekalipun tidak akan diikuti oleh perbankan karena kalau bank menurunkan suku bunga deposito rendah sekali orang-orang akan lari ke sukuk atau ke bond pemerintah," katanya.
Dradjad menyesalkan keputusan pemerintah menerbitkan GMTN di saat kondisi pasar yang belum kondusif sehingga yield-nya tinggi.
"GMTN itu menunjukan kebutuhan yang kepepet yang akhirnya merubah benchmark pasar keuangan kita. Kalau devisa labil iya, cuma mengapa pemerintah ngotot sekali menerbitkan GMTN sekarang," ujarnya
"Dengan kondisi seperti ini pasar sedang drop, ekspor juga, sementara cost of fund mahal. Dengan kondisi seperti itu perusahaan malas untuk mengambil kredit mending dia tiarap sekarang," pungkasnya.
(dnl/qom)











































