Peningkatan pendapatan bunga bersih dan fee base income secara signifikan merupakan faktor utama pendorong pertumbuhan laba BCA.
Peningkatan pendapatan bunga bersih sebesar 29,0 persen menjadi Rp 12,4 triliun pada tahun 2008 didorong oleh pertumbuhan kredit yang signifikan, komposisi dana pihak ketiga (DPK) yang menguntungkan dan komposisi aktiva produktif yang berimbang.
Fee Based income tumbuh 36,5 persen menjadi Rp 3,9 triliun, didukung oleh pertumbuhan pendapatan yang berasal dari jasa layanan rekening dan aktivitas transaksi.
"Pada saat ini di tengah kondisi yang penuh tantangan, BCA senantiasa fokus pada upaya-upaya untuk mempertahankan posisi likuiditas dan struktur permodalan yang kuat," ujar Presiden Direktur PT Bank Central Asia, DE Setijoso dalam acara jumpa pers kinerja BCA di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, (30/3/2009).
Ia juga menjelaskan bahwa BCA akan terus memelihara dan memanfaatkan model bisnis BCA yang teruji untuk mengoptimalkan pendapatan yang pada akhirnya dapat memperkuat permodalan perusahaan.
BCA membukukan pertumbuhan kredit yang signifikan di semua segmen sebesar 36,9 persen menjadi Rp 112,8 triliun pada akhir Desember 2008 dibandingkan dengan Rp 82,4 triliun pada akhir Desember 2007.
DPK tumbuh sebesar 10,8 persen menjadi Rp 209,5 triliun didukung oleh peningkatan dana dari produk tabungan dan giro. Total tabungan meningkat sebesar 11,3 persen menjadi Rp 105,4 triliun sedangkan giro meningkat sebesar 16,5 persen menjadi Rp 51,2 triliun.
Wakil Direktur Utama BCA, Yahya Setiadmaja menjelaskan bahwa untuk rasio kredit bermasalah (NPL) BCA, tetap pada posisi yang rendah dan tercatat sebesar 0,6 persen dengan cadangan terhadap kredit bermasalah sebesar 408,4 persen.
"NPL sebesar Rp 675 miliar dengan pencadangan Rp 2 triliun lebih," ujarnya.
Untuk Rasio Kecukupan Modal (CAR) BCA tercatat sebesar 15,8 persen.
(dru/ir)











































