Jangan Ada Lagi Sukuk Global Mulai 2010

Jangan Ada Lagi Sukuk Global Mulai 2010

- detikFinance
Senin, 20 Apr 2009 10:25 WIB
Jangan Ada Lagi Sukuk Global Mulai 2010
Jakarta - Penerbitan surat berharga syariah internasional (sukuk global) Indo-sukuk Al Ijarah dinilai efektif untuk membantu mengurangi defisit anggaran belanja Rp 139,5 triliun tahun ini. Namun sebaiknya mulai tahun depan pemerintah tidak lagi mengandalkan instrumen tersebut untuk menutupi APBN.

"Menurut saya, dalam kondisi sekarang tidak ada pilihan lain pemerintah terpaksa menerbitkan ini," ungkap ekonom INDEF Aviliani saat berbincang dengan detikFinance, Senin (20/4/2009).

Menurut Aviliani, penerbitan sukuk global ini sudah tepat agar tidak terjadi perebutan dana antara pemerintah dengan perbankan nasional.

"Karena kalau di dalam negeri, nanti yang beli orang Indonesia. Akhirnya uang yang ada di bank malah dibeliin sukuk," jelasnya.

Aviliani menilai sukuk global yang ditawarkan pemerintah akan menarik investor asing karena bunga yang diberikan cukup menggiurkan.

"Ini sangat menarik. Dengan bunga 8,8 persen, saya rasa cukup karena SBI kita kan 7,5 persen," katanya.

Aviliani berharap agar pemerintah tidak terus menerus menggunakan instrumen seperti ini untuk menutupi anggaran.

"Kalau untuk 2009 oke, lah. Tahun depan kalau bisa kita sudah zero budget karena kalau defisit terus otomatis negara akan terus berhutang artinya dengan utang terus maka beban cicilannya naik terus otomatis anggaran untuk rakyat akan semakin kecil," papar Avilialini.

Aviliani menambahkan penggunaan instrumen tersebut harus dipikirkan kembali di tahun 2010 karena pada pertengahan tahun depan keadaan ekonomi diprediksikan akan mulai membaik.

"Tahun 2010 harus dipikirkan lagi karena pada pertengahan 2010 diprediksikan ekonomi sudah mulai membaik sehingga investasi sudah mulai masuk. Kalau sekarangkan investasi belum masuk," ucap Aviliani.

Seperti diketahui, pada 23 April 2009 pemerintah akan menerbitkan Indo-sukuk Al Ijarah melalui perusahaan penerbit SBSN Indonesia I. Adapun nominal sukuk yang ditawarkan mencapai US$ 650 juta atau Rp 7,1 triliun, dengan kupon tetap sebesar 8,8 persen dan tanggal jatuh tempo 24 April 2014.
(epi/lih)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads