Hal tersebut dinyatakan oleh ekonom Islamic Development Bank (IDB) Mohammed Obaidullah dalam Seminar Internasional bertajuk "Islamic Finance in the Turbulence Times: New Perspective on Poverty Alleviation and Global Financial Crisis" yang diadakan di Auditorium Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI), Depok, Selasa (16/06/2009).
Ia menjelaskan, penduduk 5 negara termiskin anggota IDB kini berjumlah 1,5 miliar jiwa. Sebanyak 72 persen masyarakat yang hidup di negara muslim tidak bisa memanfaatkan jasa keuangan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Obaidullah menambahkan, jasa mikro keuangan syariah 80 persen masih terkonsentrasi di beberapa negara yaitu Indonesia, Bangladesh dan Afganistan.
Ia berpendapat bahwa agar dapat berkembang, industri keuangan mikro syariah harus senantiasa menyesuaikan diri dengan kepercayaan dan budaya masyarakat.
"Apa yang dibutuhkan masyarakat muslim adalah Islamic Microfinance yang tidak melanggar kepercayaan fundamental dan budayanya," tambahnya.
Aset industri keuangan Islam saat ini telah mencapai US $ 800 miliar dan diperkirakan akan menembus US$ 4 triliun dalam 6 tahun kedepan.
Di Indonesia, Aset Perbankan Syariah (5 Bank Umum Syariah dan 25 Unit Usaha Syariah) per kuartal I 2009 telah menembus Rp. 50 triliun. Angka tersebut belum termasuk Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS), Baitul Mall wat Tamwiil (BMT), Asuransi Syariah dan Pegadaian Syariah.
(qom/qom)











































