"Pertumbuhan kredit tersebut didukung oleh pertumbuhan produk kredit konsumer dan pertumbuhan kredit di sektor usaha kecil," ujar Wakil Direktur Utama BCA, Jahja Setiaadmadja dalam jumpa pers di Hotel Indonesia, Jakarta, Rabu (29/07/2009).
Jahja mengatakan, kredit konsumer tumbuh 30,5% menjadi Rp 22,6 triliun pada akhir Juni 2009 dari Rp 17,3 triliun pada akhir Juni 2008. "Kredit korporasi tercatat sebesar Rp 42,3 triliun pada akhir Juni 2009 atau meningkat 3,3% year on year ," jelasnya.
Sedangkan kredit komersial dan UKM tumbuh 12,5% menjadi Rp 42,1 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu. "Kredit komersial terdiri dari, KPR (Kredit Kepemilikan Rumah) pada bulan Juni 2009 tercatat Rp 10,6 triliun, KKB (Kredit Kendaraan Bermotor) Rp 8,5 triliun dan KK (Kartu Kredit) mencapai Rp 3,4 triliun," paparnya.
Namun Jahja mengatakan jika dibandingkan posisi akhir Desember 2008, pertumbuhan kredit perseroan minus. "Tercatat pada Desember 2008 sebesar Rp 112 triliun dan pada bulan Juni 2009 sebesar 107,3 triliun," katanya.
Penurunan pertumbuhan kredit tersebut jelas Jahja dikarenakan krisis global. Namun Jahja mengatakan target pertumbuhan kredit pada tahun 2009 tetap sesuai koridor, adalah sebesar 15%.
Rasio kredit bermasalah (NPL) gross BCA naik pada semester I-2009 menjadi 1,9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 0,7%.
Sedangkan untuk NPL nett, BCA mencatat kenaikan sebesar 0,2%, menjadi 0,3% di semester I-2009 dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang hanya sebesar 0,1%.
Sedangkan untuk rasio kecukupan modal (CAR) yang menurun dari 16,7% pada bulan Juni 2008 menjadi 16,5% pada bulan Juni 2009, Jahja mengatakan CAR tersebut tergerus karena adanya kewajiban pembayaran dividen.
"Kita harus membayar dividen pada bulan Juni 2009 sebesar Rp 1,5 triliun. Dengan hal tersebut maka CAR sedikit tergerus, selain itu bertambahnya ATMR kita yang salah satunya digunakan untuk pinjaman," tutur Jahja.
(dru/dnl)











































