Direktur Korporasi BNI Krishna R Suparto mengatakan, BNI siap memberikan Rp 1 triliun untuk keperluan Pertamina tersebut. Sementara Mandiri, sebelumnya mengaku siap menggelontorkan Rp 1,5 triliun.
"Kita akan dengan Pertamina, total proyek Rp 3 triliun dan kita sepertiganya kalau tidak salah ada bank lain seperti Mandiri dan BRI. Sepertiganya berarti Rp 1 triliun, bisa kurang bisa lebih, ini masih negosiasi," tuturnya di sela-sela diskusi panel mengenai Peningkatan Peran dan Partisipasi Bank BUMN dalam kegiatan Usaha Hulu Migas di Indonesia, di Balai Kartini, Jakarta, Kamis (30/7/2009).
Krishna mengatakan kredit tersebut diberikan dalam bentuk rupiah, sebab BNI tidak berkonsentrasi untuk memberikan kredit dalam bentuk valas.
Krishna mengatakan sampai semester I-2009 jumlah kredit ke sektor migas yang dikucurkan BNI mencapai Rp 3,5 triliun dan BNI mentargetkan bisa tumbuh mencapai Rp 5 triliun sampai akhir 2009 ini. "Yang Rp 3,5 triliun sudah terealisasi ada yang kredit dalam bentuk langsung dan fasilitas non kredit yang sifatnya L/C untuk transaksi-transaksi," katanya.
Krishna mengatakan kisaran suku bunga kredit korporasi yang diberikan BNI saat ini adalah berkisar 11-13% tergantung besaran usaha, kompleksitas, dan hubungan debitur. Menurutnya kredit bermasalah di sektor korporasi relatif kecil, NPL net di sektor ini masih di bawah 1%.
Kredit migas terbesar BNI diberikan kepada Pertamina dan Medco. Krishna juga mengatakan BNI juga siap untuk melayani transaksi perusahaan kontraktor migas di Indonesia seperti yang telah diatur oleh BP Migas. (dnl/lih)











































