Pertumbuhan pendapatan yang signifikan ini ditopang oleh kenaikan pendapatan non premi pada Q2-2009 sebesar Rp 11,1 triliun.
Demikian disampaikan Ketua Umum Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), Evelina F. Pietruschka dalam paparan kinerja Industri Asuransi Jiwa di Jakarta, Rabu (9/9/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sedangkan pendapatan premi lanjutan (renewal) pada kuartal II-2009 secara yoy tumbuh 25,26 % menjadi Rp 9,64 triliun dibandingkan periode yang sama tahun 2008 sebesar Rp 7,7 triliun.
"Jadi pertumbuhan berkesinambungan industi asuransi jiwa lebih banyak ditopang kalau kita jual regular produk. Itu bisa dilihat dari premi renewal yang cukup tumbuh signifikan. Nah kalau di new produk terjadi penurunan itu karena lebih banyak terkait investasi," urai Evelina.
Ia menjelaskan, pertumbuhan premi regular (renewal premi) menunjukkan bahwa trend penyadaran pembelian asuransi jiwa mulai tumbuh positif.
"Kita harapkan untuk lebih tumbuh positif dari angka Rp400 hingga Rp700 miliar yang dapat kita monitor (per kuartal)," katanya.
Sementara Executive Director AAJI, Stephen Juwono menilai, jika mencermati pergerakan premi produksi baru per kuartal (Q1-Q2) maka tercatat terjadi perbaikan. Namun jika dibanding Q2-2009 jelas ada penurunan karena saat itu belum terjadi krisis keuangan global.
"Artinya di kuartal I 2009 mulaitumbuh dan di kuartal II-2009 lebih baik," katanya pada kesempatan yang sama.
Terjadinya penurunan secara yoy untuk premi produksi baru menurut Stephen karena terjadi penurunan di single premium. Adapun rincian perolehan single premium new business hingga Q2-2009 antara lain untuk premi individu menjadi Rp4,7 ttriliun dibanding Rp6,3 triliun di Q2-2008.
"Ini perlu dipahami karena krisis pasar modal," tegas Stephen.
Namun untuk single premium dari kumpulan untuk new business tercatat naik meski tipis dari Rp 1,8 triliun di Q2-2008 menjadi Rp1,9 di Q2-2009. Demikian juga untuk unit link yang tercatat naik menjadi Rp6,6 triliun di Q2-2009 dari periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp5,4 triliun.
"Pendapatan premi dari unit link di Q2-2009 itu mencapai 20,57%. Secara tahunan total penadapatan unit link naik dari Rp11 triliun menjadi Rp13,3 triliun. Jadi krisis tidak mempengaruhi kepercayaan masyarakt terhadap unit link," kata Stephen.
Nilai Investasi Naik 18,13%
Mengenai investasi, Stephen menjelaskan, nilai investasi industri asuransi jiwa anggota AAJI pada triwulan kedua 2009 (unaudited) mengalami peningkatan sebesar 18,13% atau mencapai Rp 109,7 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 92,9 triliun.
Berikut ini adalah catatan instrumen investasi Q2-2009:
- Surat berharga Rp 45,9 triliun (41,84%),
- Reksadana Rp 33,6 triliun (30,63%),
- Deposito Rp 13,9 triliun (12,70%),
- Penyertaan Langsung Rp 5,3 triliun (4,91%),
- Surat Pengakuan Utang Lebih 1 tahun Rp 3,7 triliun (3,40%),
- Pinjaman Polis Rp 2,7 triliun (2,54%),Â
- Bangunan Tanah & Bangunan untuk Investasi Rp 2,0 triliun (1,90%),
- SBI Rp 1,3 triliun (1,22%),
- SBPU Rp 549,9 miliar (0,50%),
- Lain-lain Rp 246,8 miliar (0,22%) dan
- Pinjaman Hipotik Rp 149,7 miliar (0,14%).
(qom/qom)











































