Ketiga bank tersebut, Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Mandiri (Mandiri) dan Bank Negara Indonesia (BNI) sepakat untuk mendukung industri gula melalui pembiayaan guna mencapai swasembada gula.
Direktur Korporasi BRI, Asmawi Syam mengatakan, BRI akan mendukung penuh industri gula di Indonesia dengan melakukan revitalisasi pabrik-pabrik gula yang ada di Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengatakan, saat ini secara nasional ada 14 pabrik yang terdiri dari 3 pabrik baru yakni di Banyuwangi, Nusa Tenggara Timur dan Garut.
"Dari 14 pabrik tersebut untuk di revitalisasi kira-kira membutuhkan dana hingga Rp 9,7 triliun. Khusus BRI sendiri sudah menyetujui kredit sebesar Rp 2,6 triliun," jelasnya.
Hingga 31 Agustus 2009 sudah dilakukan pembiayaan sebesar Rp 1 triliun. Menurut Asmawi, pada prinsipnya BRI siap memberikan support dari sisi komersial karena industri gula menjanjikan.
"Demand gula saat ini 3 juta ton per tahun, sehingga masih ada 1 juta ton lagi yang belum terealisasi dikarenakan produksi nasional baru 2 juta ton dan permintaan masih akan bertambah. Dan ini merupakan target market kami," tegasnya.
Ia menambahkan, selain revitalisasi dengan memperbaiki lahan dan mesin, Kredit Modal Kerja (KMK) bagi para produsen gula juga akan diberikan. KMK ini dasarnya memberikan dana talangan kepada produsen dan distributor gula.
Ditempat yang sama, Direktur Utama Bank Mandiri, Agus Martowardoyo menuturkan, saat ini jumlah eksposure Mandiri dan limit kreditnya di sektor perkebunan, pertanian dan agro bisnis tumbuh cukup baik.
"Eksposure bank Mandiri, pada tahun 2007 mencapai sebesar Rp 31,9 triliun, dan
hingga bulan Juni 2009 sudah mencapai Rp 43,2 triliun," kata Agus.
Selanjutnya, Agus menambahkan rincian dari pada debitur dan nasabah dalam bentuk kredit industri gula itu terdiri dari beberapa nasabah yakni PTPN 7, PTPN 9, PTPN 10 dan PTPN 14.
"Selain kredit langsung, kita juga menyalurkan ke kredit tebu dengan Kredit Ketahanan Pangan dan Energi kepada petani-petani yang beroprasi di Surabaya, Solo dan Lampung dimana total kita memberikan limit kredit mencapai Rp 221 miliar," ungkap Agus.
Mandiri, lanjut Agus, juga mendukung biaya talangan sebelum para petani gula menjual melalui PTPN. "Namun saat ini belum dimanfaatkan karena tingginya harga gula yang
menyebabkan petani langsung bisa dijual ke para pembeli," katanya.
"Soal revitalisasi bank Mandiri juga turut mendukung dengan pembangunan pabrik. Revitalisasi itu kredit limitnya juga sama, mencapai Rp 221 miliar bagi masing-masing pabrik gula. Perbankan BUMN khususnya Mandiri juga siap mendukung industri gula nasional," urainya.
Senada dengan 2 bank lainnya, Direktur Korporasi BNI, Khrisna Suparto menegaskan bahwa keterlibatan BNI di sektor Agribisnis khusunya industri gula dalam 5 tahun terakhir tumbuh dengan pertumbuhan tinggi.
"Kita masuk ke industri tebu dan gula, BNI lebih banyak memberikan pembiayaan kepada PTPN. Sampai saat ini kepada sektor pergulaan dan tebu eksposurenya mencapai Rp 400 miliar dan sudah ditawarkan juga untuk revitalisasi pabrik gula," jelas Khrisna.
(dru/qom)











































